Begitu pula agama yang hanya dijalankan sebagai ritual tanpa kesadaran tidak akan mampu mengisi kekosongan spiritual manusia.Ibnu Rusyd menawarkan jalan tengah antara akal dan iman.
Ia menolak pertentangan antara rasio dan wahyu, karena keduanya berasal dari kebenaran yang sama. Pandangannya relevan di tengah sikap ekstrem zaman modern, baik yang menolak akal atas nama agama maupun yang menyingkirkan agama atas nama rasionalitas.
Pada akhirnya, filsafat Islam pertengahan tidak menolak modernitas, tetapi mengoreksinya. Manusia diajak untuk tetap maju tanpa kehilangan kedalaman spiritual.
Kemajuan sejati bukan hanya soal teknologi dan pengetahuan, tetapi juga soal makna, akhlak, dan keseimbangan antara dunia dan batin.






