Dari Desa yang Gelap, Lahir Cahaya Kebijaksanaan: Kisah Sunyi Presiden Soeharto dan Pelajaran tentang Kemandirian Yang Di Adopsi Presiden Prabowo Subianto

Sumenep – Pada awal tahun 1990-an, di sebuah sudut sunyi Jawa Barat, ada sebuah desa kecil yang malamnya selalu datang lebih cepat. Bukan karena matahari tergesa-gesa tenggelam, tetapi karena gelap tak pernah benar-benar pergi.

Tidak ada aliran listrik, tidak ada lampu yang menerangi jalan tanah, dan tidak ada cahaya selain pelita yang redup menemani warga bercengkerama selepas senja.

Di desa itulah Presiden Republik Indonesia saat itu, Soeharto, menjejakkan kaki. Tanpa jarak, tanpa sekat kekuasaan. Ia datang sebagai pemimpin, tetapi disambut sebagai orang tua. Duduk di tengah warga, berbincang dengan senyum khasnya, didampingi ajudannya, Kolonel TNI Wiranto—yang kala itu masih seorang perwira menengah dengan tanggung jawab besar menjaga kepala negara.

Suasana pertemuan terasa hangat, nyaris haru. Warga desa yang jarang bertemu pejabat, apalagi presiden, menyampaikan cerita hidup mereka dengan jujur.

Tentang ladang yang digarap seadanya, tentang anak-anak yang belajar di bawah cahaya lampu minyak, dan tentang harapan sederhana agar hidup esok sedikit lebih terang dari hari ini.

Di sela perbincangan itu, seorang warga desa berdiri. Dengan suara pelan dan mata penuh harap, ia menyampaikan permintaan yang sangat sederhana: sebuah genset.

Bukan untuk kemewahan, hanya agar malam tidak lagi sepenuhnya gelap. Agar anak-anak bisa belajar, dan warga tak lagi meraba jalan pulang.

Dalam benak Kolonel Wiranto yang kala itu berada di sisi sang presiden, permintaan itu terasa ringan. Negara besar seperti Indonesia tentu mampu. Namun Presiden Soeharto tidak serta-merta menjawab.

Ia tersenyum – senyum yang tenang, senyum yang menyimpan pemikiran panjang. Tak ada janji, tak ada kata “akan kami bantu” yang biasa terdengar dalam kunjungan pejabat.Dengan suara lembut namun tegas, Soeharto justru mengajak warga untuk bermimpi lebih jauh.

Ia meminta mereka membentuk koperasi desa, mengelolanya bersama-sama, bergotong royong, dan dari hasil kerja kolektif itulah genset dibeli. Bukan diberi, tetapi diusahakan.

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar