SUMENEP — Di tengah tantangan pengelolaan kawasan pesisir dan meningkatnya tuntutan terhadap pariwisata yang berkelanjutan, Universitas Terbuka (UT) Surabaya mengambil langkah strategis dengan merumuskan model Community Based Tourism (CBT) atau pariwisata berbasis masyarakat di kawasan Pantai Galung, Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep.
Melalui dukungan pendanaan Program Enhancing Quality Education for International University Impact and Recognition (EQUITY) Universitas Terbuka Tahun 2025–2026, tim akademisi UT Surabaya menggandeng pemerintah daerah, masyarakat, praktisi, hingga pelaku wisata untuk menyusun formula pengembangan destinasi pesisir yang tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal.
Gagasan tersebut dibahas dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dan Diseminasi Hasil Pengabdian kepada Masyarakat yang digelar Senin (15/6/2026) di Kedai HK, Jalan Trunojoyo, Sumenep.
Direktur UT Surabaya, Prof. Suparti, M.Pd., menegaskan bahwa masa depan pariwisata tidak lagi cukup bertumpu pada keindahan alam semata. Menurutnya, masyarakat harus ditempatkan sebagai pelaku utama pembangunan destinasi.
“Pariwisata yang berkelanjutan hanya dapat terwujud apabila masyarakat terlibat sejak tahap perencanaan, pengelolaan hingga evaluasi. Dengan demikian manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan dapat dirasakan secara merata,” ujarnya.
Pantai Galung Dinilai Memiliki Potensi BesarPantai Galung selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan pesisir yang memiliki lanskap alami menarik. Namun, seperti banyak destinasi lainnya, pengembangan kawasan tersebut masih menghadapi berbagai tantangan mulai dari tata kelola, penguatan kelembagaan, hingga keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan wisata.
Dalam forum tersebut, berbagai pihak sepakat bahwa keberhasilan pengembangan Pantai Galung tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik, tetapi juga pada kemampuan masyarakat setempat dalam menjadi penggerak utama sektor pariwisata.
Narasumber FGD, Faruk Hanafi, menekankan pentingnya membangun budaya sadar wisata melalui penerapan nilai Sapta Pesona.Menurutnya, destinasi yang mampu menghadirkan rasa aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan memberikan kenangan positif akan memiliki daya saing yang lebih kuat dibanding hanya mengandalkan panorama alam.
“Objek wisata yang baik bukan hanya indah untuk dilihat, tetapi juga nyaman untuk dikunjungi dan memberikan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan,” katanya.
Hasil Kajian Ungkap Pentingnya Penguatan Kelembagaan LokalSementara itu, akademisi UT Surabaya, Siti Nuurlaily Rukmana, memaparkan hasil kajian yang menunjukkan bahwa pengembangan wisata berbasis masyarakat membutuhkan integrasi antara aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan tata ruang wilayah.





