Ada mimpi yang tumbuh bukan di ruang-ruang megah, melainkan di sela embun pagi yang menggantung di daun padi. Mimpi yang lahir dari tangan-tangan kasar seorang petani, dari peluh yang jatuh ke tanah, dan dari keyakinan bahwa pendidikan adalah warisan paling berharga bagi anak-anaknya.
Mimpi itu kini menemukan wujudnya pada diri Dr. Syaiful Bahri, S.Pd., M.Pd.
Putra Desa Bates Kecamatan Dasuk Kabupaten Sumenep, itu resmi menyandang gelar doktor setelah dinyatakan lulus dalam Ujian Terbuka Sidang Promosi Doktor Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Singaraja, pada Rabu 05 Agustus 2026. Tak sekadar lulus, ia menorehkan capaian yang membanggakan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00, nilai sempurna yang menjadi simbol dari perjalanan panjang yang dijalani dengan ketekunan tanpa henti.
Di balik toga yang dikenakannya hari itu, tersimpan kisah tentang seorang anak desa yang tumbuh dalam keluarga petani. Masa kecilnya tidak dipenuhi kemewahan. Namun, dari kehidupan yang sederhana itulah ia belajar bahwa kerja keras bukan sekadar pilihan, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sawah menjadi ruang pertama yang mengajarkannya arti kesabaran. Dari musim tanam hingga musim panen, ia menyaksikan bahwa setiap hasil membutuhkan waktu, ketekunan, dan keyakinan. Nilai-nilai itulah yang kemudian ia bawa ke dunia pendidikan.
Perjalanan menuju gelar doktor tentu bukan jalan yang singkat. Di setiap jenjang pendidikan, ada tantangan yang harus dilalui, ada keraguan yang harus ditaklukkan, dan ada pengorbanan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah tekadnya untuk terus belajar.
Kini, Syaiful Bahri mengabdikan dirinya sebagai dosen tetap Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas PGRI Sumenep. Di ruang-ruang kelas, ia tidak hanya mengajar teori, tetapi juga menanamkan keyakinan bahwa ilmu pengetahuan mampu mengubah kehidupan.
Di luar dunia kampus, ia aktif sebagai pengurus Pangestoh Lembaga Kajian Seni dan Budaya Net_Think Community. Baginya, pendidikan dan kebudayaan adalah dua mata air yang sama-sama menghidupi peradaban. Keduanya harus berjalan berdampingan agar ilmu tetap memiliki akar pada nilai-nilai kemanusiaan.
Pandangan itu tercermin dalam disertasi yang ia pertahankan, berjudul โPengembangan LKPD Membaca Menggunakan SQ4R Berbasis Aplikasi Smart Literation untuk Meningkatkan Hasil Belajar Membaca Siswa Fase C.โ
Sekilas, judul tersebut terdengar akademis. Namun, di baliknya tersimpan kegelisahan seorang pendidik terhadap kemampuan literasi anak-anak Indonesia yang masih perlu terus diperkuat.







