Sejak Inpres Nomor 1 Tahun 2025 turun, tiba-tiba banyak keluhan dari ASN berseliweran. Katanya, gara-gara kebijakan efisiensi anggaran, kerja mereka jadi susah.
WiFi kantor dicabut, langganan Zoom premium gak diperpanjang, bahkan ada yang cuma boleh kerja di kantor dua jam, sisanya WFA (Work From Anywhere).
Lebih dramatis lagi, ada yang nangis-nangis karena sekarang harus bawa air minum sendiri.
Lho, sejak kapan minum air putih jadi tanggungan negara?
Efisiensi Itu Bukan Bikin Susah, Tapi Bikin Sadar!
Mari kita luruskan dulu, efisiensi bukan berarti suruh kerja dalam kesengsaraan. Maksudnya simpel: pakai anggaran dengan lebih bijak, bukan sekadar motong-motong anggaran asal-asalan.
Yang selama ini biasa rapat di ballroom hotel, ya udah, pindah aja ke ruang rapat kantor. Yang tiap bulan terbang ke sana-sini buat dinas, mungkin bisa mulai mikir pakai Zoom dulu.
Tapi ya, kita juga tahu, ada kebiasaan di birokrasi yang udah kelewat nyaman. Dikit-dikit beli alat tulis baru, dikit-dikit minta dana konsumsi, padahal kerjaannya ya gitu-gitu aja. Sekarang ketika anggaran mulai dikontrol, malah panik sendiri.
ASN Itu Pelayan Publik, Bukan Korban Kejamnya Dunia
Sebagian ASN yang benar-benar paham kerjaannya, ya biasa aja. Toh, mereka tetap bisa kerja tanpa harus nangis-nangis kehilangan fasilitas "over the top". Yang panik justru yang terbiasa hidup nyaman di balik meja, ngerasain fasilitas premium dari duit rakyat.
Masa iya gara-gara gak ada galon di kantor, pelayanan publik jadi lumpuh? Masa gara-gara Zoom premium ilang, koordinasi jadi gagal total? Kalau kayak gitu, perusahaan-perusahaan swasta yang udah biasa efisiensi dari dulu kok bisa tetap jalan?
Yang lebih perlu dikritisi tuh bukan kebijakan efisiensinya, tapi cara para pimpinan daerah dan dinas nerjemahin instruksi dari pusat. Inpres suruh hemat, eh yang dipotong malah layanan dasar.
Klasik banget, alih-alih motong anggaran perjalanan dinas yang gak penting, malah yang dikorbanin pegawai honorer dan fasilitas kerja.
Kalau ASN Saja Gak Bisa Adaptasi, Bagaimana Masyarakat?
Lucunya, sebagian besar rakyat biasa udah terbiasa dengan kondisi yang lebih sulit. Para pekerja di sektor swasta udah lama hidup tanpa WiFi gratis, tanpa meeting di hotel, tanpa uang perjalanan dinas yang berlebihan.
Jadi kalau sekarang ada ASN yang merasa tersiksa karena harus sedikit berhemat, ya mungkin ini saatnya mereka merasakan hidup lebih realistis. Karena kerja sebagai ASN itu bukan soal menikmati fasilitas, tapi soal melayani masyarakat.
Jadi, mari kita renungkan: ASN itu benar-benar korban kebijakan atau cuma korban kebiasaan hidup nyaman?







