Media yang Lupa Tugas Mulianya
Kode Etik Jurnalistik Pasal 3 dengan jelas menyebutkan:
“Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, dan tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi.”
Sayangnya, banyak media kini terjebak dalam logika algoritma — berlomba menjadi yang tercepat, bukan yang paling akurat; mengejar trending, bukan kebenaran.
Dalam sistem seperti ini, duka manusia hanyalah bahan bakar untuk menaikkan grafik impresi.
Padahal, tugas media sejatinya bukan memperkeruh suasana, tetapi menuntun publik memahami peristiwa dengan hati dan akal sehat.
Saatnya Mengembalikan Martabat Jurnalistik
Musibah Al Khoziny seharusnya menjadi momentum bagi media untuk berbenah.
Bukan hanya tentang bagaimana memberitakan tragedi, tapi bagaimana menjaga martabat kemanusiaan di tengah tragedi.
Media bisa — dan seharusnya — memilih jalan empati:
- Menulis kisah para relawan yang berjuang di lokasi,
- Memberi ruang bagi keluarga korban untuk bersuara,
- Menghadirkan analisis para ahli konstruksi tanpa menebar tudingan,
- Dan menempatkan ucapan “takdir” dalam konteks spiritual, bukan provokasi.
Tragedi Al Khoziny; Antara Klik dan Nurani
Duka seharusnya menyatukan, bukan dijadikan bahan bakar algoritma.
Jika media terus menjadikan air mata sebagai komoditas, maka yang runtuh bukan hanya bangunan musala, tapi juga fondasi moral jurnalisme itu sendiri.
Catatan Redaksi:
Tulisan ini adalah refleksi atas fenomena pemberitaan seputar tragedi Al Khoziny. Kami percaya, tugas media bukan sekadar mengabarkan duka, melainkan menjaga empati dan nalar publik agar tetap hidup — bahkan di tengah puing-puing.







