CEO PT Wiraraja Madura, Akhmad Ma’ruf Maulana, mengatakan pembangunan industri harus diikuti dengan proses transfer pengetahuan dan teknologi.
Tenaga ahli dari pihak investor nantinya akan berperan dalam memberikan keahlian sekaligus meningkatkan kapasitas tenaga kerja lokal.
“Tenaga ahli atau engineering dari investor nantinya juga akan berperan dalam transfer pengetahuan dan teknologi,” kata Ma’ruf.
Ia menegaskan, pihaknya tidak ingin pola investasi di Madura sebatas menjadikan kawasan tersebut sebagai tempat penjualan lahan kepada investor.
PT Wiraraja Madura ingin terlebih dahulu mengembangkan kawasan dan infrastrukturnya, kemudian menarik investor untuk membangun industri.
“Saya bukan menjual-jualin lahan Madura. Saya bangun Madura, saya develop, baru saya tarik mereka investasinya,” tegasnya.
Untuk tahap awal, PT Wiraraja Madura menyiapkan pengembangan industri pada lahan sekitar 70-80 hektare, sementara kebutuhan pengembangan klaster industri diperkirakan mencapai sekitar 100 hektare.
Dari sisi pemerintah daerah, kebutuhan kawasan dalam tahap awal disebut berada pada kisaran 200-500 hektare dengan pengembangan secara bertahap.
Sejumlah sektor yang direncanakan masuk antara lain energi terbarukan atau PLTS, industri plastik, oil and gas, serta industri berbasis singkong. Pengembangan tersebut diharapkan menjadi embrio kawasan industri baru yang mampu memperkuat perekonomian Bangkalan dan Madura.
Di sisi lain, Pemkab Bangkalan tengah menyiapkan regulasi yang berkaitan dengan industri dan investasi. Regulasi tersebut diharapkan menjadi instrumen hukum untuk memastikan berbagai komitmen investor, termasuk kewajiban dan target penyerapan tenaga kerja lokal.






