Petugas Ompreng di Gaji, Guru Mengabdi

Ilustrasi AI

Esai – Apakah kalian tau, “Ompreng”?, Bagian yang Bertanggungjawab memastikan Kebersihan alat atau wadah makanan. kalau bahasa akrabnya “tukang cuci piring”—di dapur SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi) dalam program MBG (Makan Bergizi Gratis).

Para pekerja Ompreng mendapatkan upah variatif mulai dari 100 ribu sampai 150 ribu rupiah per hari. Hal ini menjadi topik perbincangan menarik di kalangan para pencari kerja.

Namun, di balik upah Ompreng yang terbilang cukup layak tersebut, ada guru honorer yang hanya dibayar 15 ribu sampai 20 ribu rupiah per hari.

Dengan kejadian tersebut, akhir-akhir ini banyak celotehan tongkrongan yang berbunyi, “lebih tinggi gaji Ompreng dapur SPPG daripada guru.” Pernyataan itu menjadi sebuah anomali sosial yang menggelitik sekaligus menyakitkan.

Ketimpangan upah seorang guru yang begitu rendah dibandingkan pekerjaan lain yang secara tanggung jawab dan dampak sosial jauh berbeda.

Seperti yang kita ketahui bersama, guru merupakan tonggak utama dalam proses mencetak generasi bangsa. Namun ironisnya, persoalan kesejahteraan guru seolah menjadi masalah klasik yang terus berulang setiap tahun.

Pemerintah memang telah menggulirkan berbagai program untuk mensejahterakan guru mulai dari sertifikasi, tunjangan profesi, hingga rekrutmen ASN dan PPPK.

Sayangnya, program-program tersebut belum terserap secara merata dan belum menyentuh seluruh guru honorer di lapangan.

Banyak guru yang bertahun-tahun mengabdi dengan status “luntang-lantung”, menunggu pendaftaran ASN atau PPPK yang belum tentu menerima semua pendaftar.

Ada yang sudah berusia tidak lagi muda, ada yang sudah mengabdi lebih dari sepuluh bahkan lima belas tahun, namun tetap terhenti pada status honorer dengan penghasilan yang jauh dari kata layak.

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar