UTM Gelar TMIC-4 2026, Perkuat Kolaborasi Riset untuk Masa Depan Berkelanjutan

Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Badri Munir Sukoco, S.E., Ph.D., dalam sambutannya menekankan pentingnya membangun keterhubungan antara pengetahuan lokal, riset, inovasi, dan kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, perguruan tinggi tidak hanya dituntut untuk mengadopsi perkembangan teknologi, tetapi juga memastikan inovasi tetap berlandaskan nilai sosial, etika, dan tanggung jawab.

Perkembangan kecerdasan artifisial dan teknologi digital, perubahan demografi, dinamika pasar kerja, serta tantangan perubahan iklim menjadi bagian dari konteks yang perlu direspons melalui penguatan peran perguruan tinggi.

Konteks Madura, lanjutnya, memiliki kekayaan sejarah, budaya, sistem pengetahuan lokal, tradisi maritim, dan nilai-nilai perdagangan yang dapat menjadi aset pengetahuan penting apabila didokumentasikan, dikaji, dan dihubungkan dengan penelitian ilmiah.

โ€œPengetahuan lokal dapat menjadi titik awal menuju penelitian ilmiah, pengetahuan baru, inovasi, dan solusi yang berkelanjutan,โ€ demikian substansi pesan yang disampaikan dalam sambutannya.

Ia juga menekankan tiga peran penting universitas, yakni sebagai pembina talenta, pusat pengetahuan dan inovasi, serta pusat kolaborasi yang mempertemukan akademisi, industri, pemerintah, dan masyarakat.

Menurutnya, pengajaran, penelitian, dan keterlibatan masyarakat akan semakin kuat apabila berjalan sebagai sebuah ekosistem yang saling terhubung.

Dalam konteks tersebut, terdapat enam koneksi yang menjadi perhatian, yaitu warisan dengan teknologi, kearifan dengan pengetahuan global, penelitian dengan penerapan, teknologi digital dengan nilai kemanusiaan, universitas dengan masyarakat, serta Indonesia dengan kolaborasi global.

TMIC-4 juga menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam menjawab berbagai persoalan nyata. Konferensi menghadirkan beragam bidang, mulai dari kecerdasan artifisial dan teknologi, pertanian, kelautan, kesehatan, bisnis, pendidikan, humaniora, pemerintahan, hingga kearifan lokal.

Pendekatan tersebut dinilai penting karena berbagai persoalan masyarakat tidak berdiri sendiri dalam batas-batas disiplin ilmu. Kesehatan, kesejahteraan, transformasi digital, dan pembangunan berkelanjutan membutuhkan keterhubungan berbagai perspektif dan kompetensi.

Berita lainnya !

Bagikan: