Surabaya – Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Timur XI (Madura), R. Imron Amin atau yang akrab disapa Ra Ibong, angkat bicara terkait polemik sebuah kasus yang tengah viral di Surabaya.
Cicit ulama besar Bangkalan, Syaikhona Kholil (Mbah Kholil), itu menegaskan agar persoalan tersebut tidak dikaitkan dengan identitas suku Madura.
Ra Ibong menilai, mencampuradukkan kasus individu dengan latar belakang kesukuan merupakan sikap yang tidak bijak dan berpotensi menimbulkan dampak sosial yang lebih luas.
Menurutnya, setiap persoalan hukum harus ditempatkan secara proporsional dan diselesaikan sesuai aturan yang berlaku.
“Jangan sampai satu peristiwa kemudian digeneralisasi dengan membawa-bawa nama Madura. Masyarakat Madura diajarkan untuk menjunjung tinggi adab, etika, dan sikap andhap asor sebagaimana warisan para sesepuh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perbuatan seseorang tidak dapat dijadikan tolok ukur untuk menilai kelompok atau suku tertentu. Pelabelan semacam itu, kata Ra Ibong, justru berpotensi memicu prasangka, memperkeruh suasana, dan mengganggu kerukunan antar-masyarakat.
Lebih lanjut, Ra Ibong mengajak semua pihak, termasuk warganet dan media sosial, untuk menahan diri dari narasi provokatif yang mengarah pada stigma kesukuan.
Ia juga menekankan agar isu tersebut tidak dikaitkan dengan identitas ormas atau kelompok tertentu yang membawa nama Madura.
“Biarkan proses hukum berjalan sebagaimana mestinya. Yang terpenting adalah menjaga ketertiban, persaudaraan, dan kedamaian bersama,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Ra Ibong mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar, terutama di ruang digital.
Ia berharap fokus publik diarahkan pada penyelesaian masalah secara substantif, bukan pada pembentukan opini yang berpotensi memicu konflik sosial.
Seperti diketahui, beberapa waktu belakangan, muncul polemik tentang Oknum Ormas yang mengusir nenek di Surabaya.
Polemik itu kemudian terus menjadi perbincangan warganet, baik di Madura maupun di Surabaya.







