Siapa yang nggak tahu LSM yang kelakuannya udah mirip preman? Alih-alih membela kepentingan rakyat, eh malah jadi tukang palak atas nama kepedulian sosial. Bukannya advokasi, tapi lebih ke ‘ngamankan’ proyek sana-sini biar bisa dapet jatah.
Kenapa LSM Malah Jadi Preman?
Anehnya, masyarakat kadang lebih percaya sama mereka daripada aparat hukum. Kok bisa? Ya, karena aparat sering lemot, ribet, dan males ngurus. Akhirnya, rakyat lebih milih ‘jalan pintas’ dengan jasa LSM preman ini. Serius, ini fenomena yang harus kita bahas!
Jadi, di tulisan ini kita bakal ngobrolin kenapa LSM bisa berubah jadi semacam preman bersertifikat, kenapa masyarakat malah mendukung mereka, dan kenapa pemerintah cenderung tutup mata. Santai aja, kita bakal bahas ini dengan gaya ringan tapi tetap ilmiah.
Ini bukan asal ngomong. Kita ngumpulin data dari berita, riset-riset yang udah ada, dan berbagai kasus nyata tentang hubungan mesra antara LSM, masyarakat, dan pemerintah. Jadi, nggak cuma berdasarkan asumsi, tapi emang ada datanya.
Kupas Tuntas: LSM, Preman, dan Pemerintah yang Anteng
1. LSM atau Preman? Beda Tipis!
Mau dibilang LSM atau geng preman, ya sama aja kalau ujung-ujungnya main palak. Modusnya juga macem-macem. Ada yang ngejual jasa ‘keamanan proyek’, ada yang suka ancam-ancam bakal demo kalau nggak dikasih jatah, ada juga yang tiba-tiba muncul jadi pahlawan dadakan buat ‘ngebantu’ kasus hukum, asal ada duitnya.
Contohnya? Ada tuh LSM yang minta ‘sumbangan wajib’ dari perusahaan biar proyeknya lancar. Kalau nggak bayar? Ya siap-siap aja kena demo berjilid-jilid. Hebatnya, cara mereka ini sering sukses karena perusahaan ogah ribut.
2. Kenapa Rakyat Malah Ngedukung?
Aneh tapi nyata, masyarakat malah sering ngebelain LSM ini. Kenapa? Nih beberapa alasannya:
- Aparat Lambat, LSM Gercep; Urusan sama polisi atau pemerintah bisa bikin rambut ubanan. Lapor kasus bisa berbulan-bulan baru ditindak. Nah, LSM preman ini gercep banget. Ada masalah? Datang, beresin, tapi ya pasti ada ‘biaya jasa’ yang nggak kecil.
- Lebih Dekat dengan Rakyat; LSM ini sering pura-pura peduli, padahal ujung-ujungnya duit juga. Tapi karena mereka sering nongol di lapangan, masyarakat jadi ngerasa lebih deket sama mereka ketimbang aparat yang kerjanya di balik meja.
- Kesempatan dalam Kesempitan; Ada juga rakyat yang tau ini salah, tapi karena ada celah buat dapet untung, ya diem aja atau malah ikut nimbrung. Daripada ribet lapor ke aparat yang nggak jelas hasilnya, mending pakai jalur yang lebih ‘praktis’.
3. Pemerintah Ngapain Aja?
Serius deh, kalau nggak ada pembiaran, nggak mungkin LSM bisa leluasa kayak gini. Nih beberapa alasan kenapa pemerintah terkesan ‘cuek bebek’:
- Penegakan Hukum? Apa Itu?; Pemerintah sering kali pura-pura nggak tahu soal kelakuan LSM preman ini. Jarang ada tindakan tegas, padahal kasusnya udah numpuk. Kalau aparat beneran kerja, harusnya gampang banget membereskan ini. Tapi nyatanya? Zonk!
- Pimpinan LSM = Temennya Pejabat; Banyak banget pemimpin LSM yang punya hubungan spesial dengan pejabat daerah atau bahkan nasional. Ini bikin mereka kebal hukum. Mau gimana lagi? Kalau udah dapet backing, mau salah pun tetap aman.
- Regulasi? Longgar Banget!; Peraturan soal LSM ini masih banyak celahnya. Nggak ada pengawasan ketat, jadi yang penting punya nama LSM, bisa beroperasi sesuka hati tanpa takut ditindak.
Solusi atau Cuma Wacana?
Biar nggak cuma ngomong doang, ini beberapa langkah yang bisa (harusnya) diambil kalau pemerintah beneran serius mau beresin masalah ini:
- Aparat Jangan Loyo!; Polisi dan aparat hukum harus lebih cepat tanggap dan nggak pake ribet kalau ada laporan. Kalau mereka bisa kerja lebih baik, masyarakat nggak bakal cari jalan pintas pake jasa LSM preman ini.
- Regulasi Harus Diperketat; Udah waktunya aturan soal LSM ini lebih ketat. Harus ada transparansi soal dana dan tujuan mereka. Yang ketahuan nakal? Langsung bubarin!
- Balikin Kepercayaan Publik ke Pemerintah; Kalau rakyat udah percaya sama pemerintah, nggak bakal ada lagi yang tergoda pake jasa LSM liar. Caranya? Ya dengan pelayanan yang lebih baik dan hukum yang ditegakkan tanpa pandang bulu.
Kesimpulan
Fenomena LSM yang berubah jadi preman ini bukan sekadar isu kecil. Ini cerminan dari lemahnya hukum dan buruknya pelayanan publik. Selama aparat masih males gerak dan pemerintah masih pura-pura buta, maka premanisme berkedok LSM ini bakal terus berkembang.