Bamus Madura Dibentuk, Upaya Ubah Stigma dan Bangun Citra Positif Daerah

Foto Dokumentasi Halal Bihalal Ormas Madas

Bangkalan – Pembentukan Badan Musyawarah (Bamus) Madura oleh tiga organisasi masyarakat Madura Asli (Madas) menjadi momentum penting untuk mengubah stereotip negatif yang selama ini melekat pada organisasi Ke-Madura-an.

Iklan

Deklarasi tersebut digelar dalam suasana halal bihalal di Gedung Serba Guna Rato Ebhu Bangkalan, Rabu (1/4/2026), sekaligus menandai komitmen bersama untuk menghadirkan citra Madura yang lebih aman, ramah investasi, dan berdaya saing.

Tiga ormas yang tergabung dalam Bamus Madura yakni Madas Nusantara, Madas Serumpun, dan Madas Sedarah.

Melalui wadah ini, mereka bersepakat menyatukan langkah untuk memperkuat peran organisasi dalam pembangunan daerah sekaligus mengikis stigma yang selama ini menjadi penghambat kemajuan.

Ketua Umum Madas Nusantara, Jusuf Rizal, menegaskan bahwa pembentukan Bamus bukan sekadar forum komunikasi, tetapi gerakan kolektif untuk memperbaiki persepsi publik terhadap Madura.

Menurutnya, selama ini Madura kerap dipandang negatif, mulai dari isu konflik, gangguan keamanan, hingga anggapan biaya ekonomi tinggi.

Hal tersebut, kata dia, berdampak langsung terhadap minat investor yang ragu masuk ke wilayah tersebut.

“Stigma ini yang harus kita ubah bersama. Madura tidak seperti yang dibayangkan selama ini. Kita ingin menunjukkan bahwa Madura aman, terbuka, dan siap berkembang,” ujarnya.

Melalui Bamus Madura, lanjut Jusuf, pihaknya akan menjadi jembatan antara masyarakat, organisasi, dan pelaku usaha guna memastikan terciptanya situasi yang kondusif.

Ia bahkan menegaskan komitmen untuk menjamin keamanan investasi agar tidak lagi muncul kekhawatiran dari para investor.

Selain itu, Bamus juga akan mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia lokal agar mampu bersaing dan menjadi pelaku utama dalam pembangunan di daerahnya sendiri.

Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyambut baik langkah tersebut sebagai bagian dari upaya membangun citra positif Madura.

Ia menilai, kekuatan utama masyarakat Madura justru terletak pada solidaritas, budaya, dan semangat gotong royong yang selama ini telah terbukti, baik di kampung halaman maupun di perantauan.

“Ini momentum untuk memperkuat kebersamaan sekaligus menunjukkan bahwa Madura memiliki potensi besar. Investasi harus berjalan lancar dan jauh dari gangguan agar kesejahteraan masyarakat bisa meningkat,” ujarnya.

Emil juga menekankan bahwa peran masyarakat Madura di perantauan sangat strategis dalam membangun citra daerah. Menurutnya, nilai-nilai keramahan, kekeluargaan, serta kekayaan budaya dan kuliner Madura merupakan modal sosial yang kuat untuk menghapus stigma negatif.

Dengan terbentuknya Bamus Madura, diharapkan lahir langkah nyata dan berkelanjutan untuk mengubah cara pandang terhadap Madura dari daerah yang kerap distereotipkan negatif menjadi wilayah yang aman, terbuka, dan menjanjikan bagi investasi serta pembangunan.

Berita lainnya !

Bagikan:

Tags

Tinggalkan komentar