Bangkalan – Institut Bahri Asyiq (IBA) Galis Bangkalan resmi melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) SISDAMAS (Sistem Pemberdayaan Masyarakat) 2026 dengan mengusung tema “Pedagogi Kemaritiman: Penguatan Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat Pesisir Menuju Indonesia Emas”, Sabtu (25/7/2026).
Sebanyak 102 mahasiswa diterjunkan ke sepuluh desa di Kabupaten Bangkalan sebagai bentuk implementasi Tridarma Perguruan Tinggi melalui pengabdian kepada masyarakat.
KKN SISDAMAS 2026 difokuskan pada penguatan pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan potensi desa, khususnya di kawasan pesisir. Lokasi pengabdian tersebar di tiga kecamatan, yakni delapan desa di Kecamatan Klampis, satu desa di Kecamatan Kwanyar, dan satu desa di Kecamatan Kokop.
Ketua Panitia KKN SISDAMAS 2026, Abdul Mukit, M.Ag., mengatakan seluruh peserta telah dibagi ke dalam kelompok sesuai lokasi penempatan.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dituntut menjalankan program kerja yang telah disusun, tetapi juga harus mampu memahami kondisi sosial masyarakat sebelum merancang kegiatan.
“Peserta tahun ini berjumlah 102 mahasiswa yang kami bagi ke sepuluh desa. Kami ingin mahasiswa terlebih dahulu mengenali kondisi masyarakat, berkomunikasi dengan pemerintah desa dan tokoh setempat, kemudian merumuskan kegiatan yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan serta potensi yang ada,” ujarnya.
Ia menegaskan, pendekatan SISDAMAS menempatkan masyarakat sebagai mitra utama dalam proses pengabdian. Karena itu, mahasiswa didorong membangun kolaborasi dengan pemerintah desa, lembaga pendidikan, kelompok pemuda, hingga tokoh masyarakat agar program yang dijalankan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, melainkan memberikan dampak nyata dan berkelanjutan.
Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Bahri Asyiq, Moh. Amiril Mukminin, M.Th.I., menjelaskan bahwa tema pedagogi kemaritiman dipilih sebagai pendekatan pendidikan yang berangkat dari karakteristik dan potensi masyarakat pesisir.
“Pedagogi kemaritiman kami tempatkan sebagai cara pandang pendidikan yang berangkat dari karakter dan realitas masyarakat pesisir. Laut dan wilayah pesisir bukan hanya dipandang sebagai ruang geografis, tetapi juga sebagai ruang pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi. Mahasiswa harus mampu membaca potensi tersebut dan mengembangkannya melalui kegiatan pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” jelasnya.
Menurut Amiril, cita-cita mewujudkan Indonesia Emas harus dimulai dari penguatan kualitas sumber daya manusia hingga ke tingkat desa. Melalui KKN, mahasiswa diharapkan mampu menghadirkan gagasan dan program yang memberikan manfaat nyata sekaligus menjadi jembatan antara pengetahuan akademik dengan kearifan lokal masyarakat.







