Ia menegaskan bahwa kesejahteraan dosen bukan sekadar tuntutan, tetapi kebutuhan mendasar untuk memastikan kualitas pendidikan tinggi.
“Kita tidak bisa bicara kualitas tanpa memperhatikan kesejahteraan. Dosen yang terpenuhi haknya akan lebih maksimal menjalankan perannya sebagai pendidik, peneliti, dan pelayan masyarakat,” jelas mantan Wakil Menteri Pendidikan tersebut.
Ia juga memaparkan tantangan besar yang dihadapi pendidikan tinggi ke depan, mulai dari peningkatan akses hingga kualitas. Target nasional pada 2045 meliputi pendapatan per kapita sebesar USD 30.000, pengurangan angka kemiskinan menjadi 1–2 persen, dan peningkatan partisipasi pendidikan tinggi hingga 60 persen.
Prof. Fasli secara khusus menyoroti UTM sebagai salah satu bukti nyata afirmasi pendidikan tinggi di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal). Dari yang semula bernama Universitas Bangkalan, UTM kini menjadi pusat pendidikan yang menaungi lebih dari 20.000 mahasiswa dari berbagai penjuru Nusantara.
“Trunojoyo adalah tonggak keberhasilan pembangunan pendidikan tinggi di Madura. Ke depan, saya melihat potensi Madura untuk menjadi kawasan unggulan di sektor maritim dan manufaktur, layaknya Pulau Pinang di Malaysia,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh elemen akademik untuk terus menguatkan solidaritas dalam memperjuangkan hak-hak dosen serta memperluas akses pendidikan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat. “Peran dosen sangat strategis dalam membentuk masa depan bangsa. Sudah saatnya mereka mendapat pengakuan dan dukungan yang layak,” tutupnya.






