Meski demikian, DKPP Sumenep mengakui bahwa pelaksanaan program masih menunggu petunjuk teknis dari pemerintah pusat, termasuk berkaitan dengan mekanisme anggaran dan pola pengembangan di lapangan.
“Terkait anggaran, kita masih menunggu petunjuk teknis dari pusat bagaimana prosesnya nanti,” tambah Deddy.
Dengan potensi sumber daya alam yang dimiliki, Sumenep dinilai memiliki peluang besar menjadi salah satu daerah percontohan hilirisasi perkebunan di Jawa Timur. Jika program berjalan optimal, bukan tidak mungkin komoditas mete dan kelapa asal Sumenep nantinya mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional melalui produk-produk olahan yang memiliki daya saing tinggi.






