Setiap tahun mereka berharap, setiap tahun pula mereka dihantui kecemasan: apakah tahun ini namanya akan masuk daftar, atau kembali tersisih oleh sistem dan kuota yang terbatas?Memang benar, memilih profesi guru adalah panggilan jiwa yang tulus.
Namun panggilan jiwa tidak bisa terus-menerus dijadikan alasan untuk membenarkan ketidakadilan. Jika dikalkulasi secara logika sederhana, gaji guru honorer bahkan hanya cukup untuk membeli bahan bakar setiap kali berangkat mengajar.
Lantas, bagaimana dengan kebutuhan keluarga, biaya pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan hidup lainnya?Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka wajar bila muncul pertanyaan besar: apakah negara benar-benar menempatkan guru sebagai prioritas, atau hanya sebagai simbol pengabdian yang dituntut ikhlas tanpa jaminan kesejahteraan?.
Sebab pada akhirnya, kesejahteraan guru bukan sekadar soal angka gaji, melainkan tentang keadilan, penghargaan, dan masa depan pendidikan bangsa itu sendiri.






