Menjelang Nataru, Tiga Destinasi Wisata Unggulan Sumenep Dinilai Tak Siap: Fasilitas Rusak, Komitmen Daerah Dipertanyakan

Foto Istimewa

Sumenep – Menjelang momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025, tiga destinasi wisata unggulan milik Pemerintah Kabupaten Sumenep kembali mendapat sorotan.

Alih-alih menampilkan wajah baru untuk menyambut lonjakan wisatawan, Pantai Slopeng, Pantai Lombang, dan Museum Keraton justru dinilai belum siap dari segi fasilitas maupun pelayanan.

Padahal, kontribusi sektor pariwisata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) terus menunjukkan tren peningkatan.

Sumenep yang kerap mengklaim sebagai daerah dengan jumlah destinasi wisata terbanyak di Madura, dinilai gagal menjadi role model pengelolaan pariwisata daerah.

Kondisi lapangan memperlihatkan area bermain anak yang tidak memadai, fasilitas umum yang rusak, hingga rest area yang tak terawat mengindikasikan geliat pembangunan pariwisata lebih banyak berhenti pada tataran pencitraan.

Ketua Umum Santri dan Pemuda Sumenep (Satria Muda Sumenep), Efendi Pradana, S.Psi, turut menyoroti lemahnya komitmen pemerintah daerah terkait pengelolaan destinasi wisata tersebut.

“Kalau melihat data tahun 2024, tiga sektor wisata unggulan Pantai Slopeng, Pantai Lombang, dan Museum Keraton—menyumbang lebih dari Rp1 miliar untuk PAD. Tahun 2025 malah ditargetkan naik menjadi sekitar Rp1,282 miliar, dan pertengahan tahun realisasinya sudah mencapai 52,28%. Artinya apa? Pariwisata Sumenep itu potensi besar. Tapi kemudian pertanyaannya: apakah ada peningkatan fasilitas pelayanan untuk pengunjung? Jawabannya jelas, tidak ada,” tegasnya.

Efendi menilai pemerintah daerah gagal memberikan timbal balik yang setimpal bagi wisatawan yang membayar retribusi. Ia menyebut banyak fasilitas yang justru semakin rusak, dibiarkan tanpa perbaikan, dan berpotensi menurunkan minat wisatawan.

Kekecewaan serupa juga diungkapkan oleh seorang wisatawan asal Pamekasan. Ia mengaku datang ke Sumenep dengan harapan adanya perbaikan fasilitas, namun selalu pulang dengan rasa kecewa.

“Setiap tahun retribusi naik, tapi wahana bermain ataupun fasilitasnya tetap begitu-begitu saja. Tidak ada yang berubah. Kalau begini terus, apa gunanya kami bayar lebih?” keluhnya.

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar