Menanam Harapan di Pesisir, Menuai Kesejahteraan Masyarakat Tlangoh

Foto (asrip/PHE WMO)

Hexa reef pertama ditanam pada 2023, dan hingga kini sebanyak 390 ton telah terpasang di perairan Pantai Tlangoh.Hasil studi tahun 2025 menunjukkan dampak signifikan. Terjadi sedimentasi atau akresi yang memperlebar garis pantai.

Dalam rentang analisis data 2016–2025, segmen 280–300 menunjukkan tren akresi mencapai lima meter.

Tak hanya menahan abrasi, hexa reef juga berfungsi sebagai habitat baru ekosistem laut. Seluruh permukaan terumbu buatan ini telah ditumbuhi berbagai spesies biota sesil.

Tercatat 20 spesies ikan karang, terdiri dari 13 spesies ikan mayor dan tujuh spesies ikan target, dengan tingkat kelimpahan masing-masing sebesar 72,897 persen dan 27,103 persen.

Kondisi ini memudahkan nelayan setempat dalam mencari ikan tanpa harus melaut jauh. Selain itu, hexa reef juga menjadi daya tarik wisata bawah laut. Terumbu karang yang tumbuh didominasi oleh karang lembaran (coral foliose) dengan tutupan 10,44 persen dan karang masif (coral massive) sebesar 7,87 persen.

Keberhasilan program ini juga tak lepas dari peran Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul Hidayat, yang membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan.

Ia membentuk Kelompok Masyarakat Sadar Wisata (Pokdarwis) Tlangoh untuk mengelola kawasan wisata pesisir secara berkelanjutan.

“Berkat hexa reef, tercipta rantai nilai yang menghubungkan pokdarwis, kelompok nelayan, dan pelaku UMKM,” ujar Kudrot.

Penetapan Pantai Pasir Putih Tlangoh sebagai destinasi wisata memicu perubahan sosial yang signifikan. Lapangan pekerjaan baru terbuka, dan sedikitnya 40 UMKM kini aktif beroperasi di kawasan wisata, mulai dari kuliner, oleh-oleh, jasa, hingga penyediaan lahan parkir.

Bahkan, peluang ekonomi ini mendorong sejumlah mantan pekerja migran Indonesia asal Desa Tlangoh untuk kembali dan membuka usaha di kampung halaman.

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar