Masa Depan PMII: 5 Menteri dan 2 Wakil Menteri Alumni PMII dalam Kabinet Merah Putih, Masihkah Berpegang pada NDP?

Alumni PMII
Prabowo Subianto saat menghadiri Harlah ke-63 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)

Sebagai contoh, Abdul Kadir Karding sebagai Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia/Kepala BPNTKI, punya tanggung jawab besar dalam melindungi pekerja migran yang sering kali menjadi korban eksploitasi dan ketidakadilan. Apakah dalam menjalankan tugasnya, ia akan tetap mengedepankan prinsip keadilan dan keberpihakan kepada kaum lemah, sebagaimana yang diajarkan dalam NDP? Atau apakah ia akan terjebak dalam pragmatisme politik dan kompromi dengan pihak-pihak yang memiliki kekuatan ekonomi lebih besar?

Begitu juga dengan Nusron Wahid sebagai Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN. Konflik agraria di Indonesia sudah menjadi isu yang tak pernah habis. Di sinilah tantangan bagi Nusron, apakah ia akan tetap berpihak kepada petani kecil yang tanahnya sering kali dirampas oleh korporasi besar? Ataukah ia akan lebih memilih berdamai dengan kekuatan ekonomi demi stabilitas politik? Pertanyaan-pertanyaan ini adalah refleksi yang menurut saya harus terus kita tanyakan.

Alumni PMII: Jangan Lupa Asal Usulmu!

Saya ingat betul, salah satu pesan penting dalam NDP adalah keberpihakan kepada mereka yang terpinggirkan. Ini adalah inti dari perjuangan PMII. Ketika saya aktif di PMII, saya diajarkan bahwa posisi kekuasaan bukanlah tujuan akhir. Justru kekuasaan adalah alat untuk mewujudkan keadilan sosial dan moralitas dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu, saya berharap para menteri dan wakil menteri alumni PMII ini tidak melupakan akar perjuangan mereka.

Seperti yang dikatakan oleh Febri Yohansyah, Koordinator Nasional GSBK (Gerakan Santri Biru Kuning), saat ini menjadi menteri bagi alumni PMII mungkin sudah lebih mudah dibandingkan era Soeharto atau SBY, di mana PMII sering dianggap sebagai pemain politik pinggiran.

Namun, yang harus dipikirkan oleh alumni PMII bukanlah sekadar bagaimana bisa mendapatkan posisi menteri, melainkan bagaimana menggunakan posisi tersebut untuk kepentingan yang lebih besar: yakni membangun masa depan Indonesia yang adil dan berdaulat, sesuai dengan NDP.

Febri juga mengingatkan agar para alumni yang kini berada di posisi strategis ini tidak melupakan kader-kader muda yang masih berjuang di bawah. Mereka yang berada di kabinet harus menjadi mentor, memberikan kesempatan magang dan belajar kepada adik-adik PMII. Dengan cara ini, PMII bisa terus melahirkan generasi baru yang siap melanjutkan perjuangan.

Kesimpulan: Apakah Mereka Akan Tetap Setia?

Pada akhirnya, masa depan PMII berada di tangan para alumni yang kini telah menduduki posisi-posisi penting dalam pemerintahan. Saya percaya, jika mereka tetap berpegang pada NDP, PMII akan terus menjadi gerakan yang relevan dan berpengaruh, tidak hanya dalam ranah akademik, tetapi juga dalam kehidupan sosial-politik Indonesia.

Namun, jika mereka mulai melupakan NDP dan lebih memilih untuk bermain aman demi kepentingan politik atau ekonomi jangka pendek, maka kita harus siap-siap melihat PMII hanya sebagai kenangan masa lalu. Sebagai alumni PMII, saya berharap mereka tetap setia pada nilai-nilai perjuangan yang telah diajarkan, dan menggunakan posisi mereka untuk memperjuangkan keadilan, kemanusiaan, dan keberpihakan kepada kaum yang tertindas.

Masa depan PMII, dengan lima menteri dan dua wakil menteri di kabinet, seharusnya menjadi masa depan yang cerah, asalkan kita tidak lupa dari mana kita berasal.

Sumber Data : MONEYTALK.ID

Berita lainnya !

Bagikan:

Satu pemikiran pada “Masa Depan PMII: 5 Menteri dan 2 Wakil Menteri Alumni PMII dalam Kabinet Merah Putih, Masihkah Berpegang pada NDP?”

  1. Ping-balik: Berita Duka Mendalam dari Pendiri PMII, KH Munsif Nachrawi Telah Berpulang - KATAMADURA.com

Tinggalkan komentar