Bangkalan – Delapan mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) berhasil menorehkan pengalaman pengabdian yang tak terlupakan melalui program Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) kemanusiaan di Aceh.
Selama dua bulan, mereka terjun langsung membantu masyarakat terdampak banjir di Desa Paya Rabo Lhok, Kecamatan Sawang, Aceh Utara.
Keberhasilan tersebut mendapat apresiasi langsung dari Rektor UTM, Prof. Safi’, dalam penyambutan yang digelar pada 31 Maret 2026 di lantai 1 Gedung Rektorat UTM.
Dalam sambutannya, Rektor mengungkapkan rasa syukur atas kelancaran program sekaligus dampak positif yang dihasilkan. Menurutnya, kebahagiaan para mahasiswa menjadi indikator nyata keberhasilan kegiatan tersebut.
“Para peserta tampak bahagia karena bisa terjun langsung membantu masyarakat. Dari situ muncul kepuasan batin yang tidak bisa didapat hanya dari bangku kuliah,” ujarnya.
Ia menilai, pengalaman memberi dan berbagi di tengah masyarakat terdampak bencana menjadi pembelajaran berharga yang membentuk empati dan kepedulian sosial mahasiswa.
Meski diminati banyak mahasiswa, program ini hanya mampu memberangkatkan satu kelompok yang terdiri dari delapan orang. Keterbatasan anggaran menjadi salah satu faktor utama pembatasan tersebut.
Padahal, menurut Rektor, minat mahasiswa untuk terlibat dalam program kemanusiaan seperti ini cukup tinggi dan berpotensi terus berkembang di masa depan.
Sebagai bentuk apresiasi, pelaksanaan KKNT selama dua bulan tersebut dikonversi setara dengan 10 SKS. Namun, Rektor menilai bobot tersebut masih belum sebanding dengan tantangan yang dihadapi mahasiswa di lapangan.
Mulai dari jarak yang jauh, kondisi wilayah terdampak bencana, hingga pelaksanaan yang bertepatan dengan bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri menjadi tantangan tersendiri.
“Perlu ada pertimbangan untuk penambahan SKS sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi mereka,” ungkapnya.
Program ini menjadi tonggak awal bagi UTM dalam mengembangkan KKNT berbasis kemanusiaan. Meski KKN tematik telah lebih dulu berjalan, KKNT dengan fokus penanganan bencana baru pertama kali dilaksanakan.
Ke depan, program ini diharapkan dapat terus dikembangkan, tidak hanya sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, tetapi juga sebagai sarana pembelajaran nyata bagi mahasiswa untuk menghadapi persoalan sosial di lapangan.
Dengan semangat berbagi dan kepedulian, delapan mahasiswa tersebut telah membuktikan bahwa pengabdian bukan sekadar kewajiban akademik, melainkan juga panggilan kemanusiaan.






