Bangkalan - Universitas Trunojoyo Madura (UTM) menerima kunjungan strategis dari Khairul Munadi, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia, dalam kegiatan bertajuk “Transformasi Ekosistem Akademik Menuju Kampus Adaptif, Unggul, dan Berdampak”.
Acara digelar di Aula Syaikhona Muhammad Kholil, Lantai 10 Gedung Graha Utama UTM.
Rektor UTM, Prof. Safi', dalam sambutannya menegaskan pentingnya forum ini sebagai ruang sharing and hearing guna menyelaraskan arah kebijakan pendidikan tinggi nasional dengan langkah strategis UTM sebagai perguruan tinggi negeri terakreditasi Unggul.
“Kehadiran Bapak Dirjen menjadi energi baru bagi kami untuk terus berbenah dan bertransformasi. UTM berkomitmen menjadi kampus yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi masyarakat, sejalan dengan semangat Unggul, Tangguh, dan Mandiri,” ujarnya.
Rektor juga memaparkan sejumlah capaian UTM sepanjang 2025, termasuk pembukaan sembilan program studi baru yang terdiri atas empat program doktor, empat program magister, dan satu program sarjana.
Dalam kesempatan tersebut, UTM turut memohon dukungan Dirjen Dikti terhadap rencana pendirian Fakultas Kedokteran sebagai bagian dari kontribusi memperluas akses pendidikan dan layanan kesehatan di Madura.
Dalam pemaparannya, Khairul Munadi menyoroti tantangan pendidikan tinggi menuju Indonesia Emas 2045, terutama di tengah krisis global dan disrupsi teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, bioteknologi, genomik, hingga otomasi.
Menurutnya, perguruan tinggi dituntut bertransformasi secara adaptif dan progresif.Ia menjelaskan evolusi peran universitas, mulai dari Universitas Klasik (1.0) yang berfokus pada pengajaran, Universitas Riset (2.0) yang menekankan penemuan dan inovasi, Universitas Kewirausahaan (3.0) dengan hilirisasi riset dan kolaborasi triple-helix, hingga Universitas 4.0 yang berorientasi pada transformasi sosial-ekonomi dan model quadruple-helix dengan melibatkan masyarakat.
“Perguruan tinggi tidak lagi cukup menjadi pusat keunggulan akademik (academic excellence), tetapi harus menjadi pusat transformasi sosial (societal relevance). Kampus harus mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi dampak,” tegasnya.
Dirjen Dikti juga menekankan paradigma Kampus Berdampak melalui pendekatan challenge-based learning, integrasi capstone project interdisipliner, penguatan riset terapan, digitalisasi, internasionalisasi, serta pembentukan karakter madani.
Riset dan inovasi, lanjutnya, harus dipetakan kontribusinya terhadap SDGs, RPJMN, rencana strategis pemerintah daerah, serta agenda nasional Indonesia Emas 2045.
Secara khusus, UTM didorong menjadi lokomotif transformasi bagi Madura melalui penguatan riset terapan berbasis potensi lokal atau “Kemaduraan”.
Salah satu contoh yang disoroti adalah inovasi garam UTM yang perlu terus dihilirisasi dari laboratorium menuju penerapan praktis di masyarakat, termasuk pengembangan industri kreatif lokal.
“UTM memiliki posisi strategis. Kampus ini harus menjadi ruang kolaborasi terbuka antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Keunggulan akademik harus diterjemahkan menjadi solusi konkret atas permasalahan lokal,” ujarnya.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Lailatul Muarofah Hanim, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Kepala Pusat Pelatihan, Asesmen, dan Pengembangan SDM LPPMP UTM, berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang diikuti pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.






