Riset dan inovasi, lanjutnya, harus dipetakan kontribusinya terhadap SDGs, RPJMN, rencana strategis pemerintah daerah, serta agenda nasional Indonesia Emas 2045.
Secara khusus, UTM didorong menjadi lokomotif transformasi bagi Madura melalui penguatan riset terapan berbasis potensi lokal atau “Kemaduraan”.
Salah satu contoh yang disoroti adalah inovasi garam UTM yang perlu terus dihilirisasi dari laboratorium menuju penerapan praktis di masyarakat, termasuk pengembangan industri kreatif lokal.
“UTM memiliki posisi strategis. Kampus ini harus menjadi ruang kolaborasi terbuka antara akademisi, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Keunggulan akademik harus diterjemahkan menjadi solusi konkret atas permasalahan lokal,” ujarnya.
Kegiatan yang dimoderatori oleh Lailatul Muarofah Hanim, S.Psi., M.Psi., Psikolog, Kepala Pusat Pelatihan, Asesmen, dan Pengembangan SDM LPPMP UTM, berlangsung interaktif dengan sesi diskusi yang diikuti pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.






