SUMENEP – Semangat nasionalisme yang diwariskan Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno, masih menemukan tempat istimewa di hati generasi muda Madura. Hal itu tercermin dari membludaknya jumlah peserta pada Lomba Baca Puisi dan Pidato Bung Karno se-Madura 2026 yang digelar Ikatan Wartawan Online (IWO) Sumenep bersama Pemerintah Kabupaten Sumenep melalui Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar).
Ajang yang menjadi bagian dari peringatan Bulan Bung Karno tersebut kembali mencatat peningkatan partisipasi. Sebanyak 113 peserta mengikuti kategori baca puisi, melampaui target yang sebelumnya ditetapkan panitia sebanyak 100 peserta. Mereka datang dari berbagai kabupaten di Pulau Madura dengan latar belakang yang beragam, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga masyarakat umum.
Tingginya animo peserta menunjukkan bahwa nilai-nilai perjuangan, keberanian berpikir, serta semangat persatuan yang diwariskan Bung Karno masih relevan dan mampu menarik perhatian generasi muda di tengah derasnya perkembangan teknologi dan arus informasi digital.
Kepala Disbudporapar Kabupaten Sumenep, Faruq Hanafi, mengatakan bahwa konsistensi penyelenggaraan kegiatan selama empat tahun terakhir menjadi bukti nyata bahwa ruang-ruang edukasi kebangsaan masih diminati masyarakat, khususnya kalangan muda.
Menurutnya, Bung Karno tidak hanya dikenang sebagai tokoh sejarah bangsa, tetapi juga sebagai figur inspiratif yang gagasan-gagasannya tetap hidup dan dapat menjadi pedoman dalam membangun karakter generasi penerus.
“Partisipasi peserta yang terus meningkat menunjukkan bahwa generasi muda masih memiliki ketertarikan untuk mengenal dan memahami pemikiran Bung Karno. Ini menjadi modal penting dalam menjaga semangat persatuan dan nasionalisme di masa depan,” ujar Faruq saat membuka kegiatan.
Ia menambahkan, pendekatan melalui seni dan literasi merupakan metode yang efektif untuk menanamkan nilai kebangsaan secara lebih dekat dan menyenangkan kepada generasi muda.
Sementara itu, Ketua IWO Sumenep, Imam Mustain R, menegaskan bahwa kegiatan tersebut tidak semata-mata berorientasi pada kompetisi dan perebutan gelar juara. Lebih dari itu, lomba tersebut merupakan bagian dari upaya membangun kesadaran kebangsaan melalui ruang literasi yang kreatif dan edukatif.
Menurut Imam, selama empat tahun pelaksanaannya, kegiatan ini telah berkembang menjadi wadah bagi generasi muda Madura untuk melatih kemampuan berbicara di depan publik, mengembangkan keberanian menyampaikan gagasan, sekaligus memperdalam pemahaman terhadap sejarah perjuangan bangsa.
“Kami ingin menjadikan kegiatan ini sebagai ruang pembelajaran yang inspiratif. Generasi muda tidak hanya belajar tampil percaya diri, tetapi juga memahami nilai perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya bangsa Indonesia,” katanya.







