221 Wisudawan STKIP Bangkalan Ditantang Jadi Sarjana yang Berdampak, Bukan Sekadar Bergelar

Program tersebut merupakan bagian dari kerja sama bidang pendidikan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur. Selain melakukan pengabdian pada kelompok belajar di sejumlah wilayah, mahasiswa juga menjalani PLP melalui kerja sama dengan Sekolah Indonesia Kuala Lumpur.

Meski memiliki pengalaman internasional, Fajar mengingatkan agar para lulusan tetap memiliki akar budaya yang kuat. Mahasiswa harus mampu memahami budaya lokal Madura sekaligus memiliki wawasan kebangsaan yang lebih luas.

“Harapannya mahasiswa tetap dapat menjelaskan nilai budaya yang mereka miliki, baik secara lokal di Madura maupun secara nasional, sehingga mereka tidak lupa atau kehilangan akar dan asal kehidupannya,” jelasnya.

Fajar juga menekankan pentingnya budaya belajar sepanjang hayat. Menurutnya, kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja akan terus berubah seiring perkembangan teknologi dan perubahan zaman.

Karena itu, gelar sarjana tidak boleh menjadi titik akhir untuk belajar. Para lulusan harus terus meningkatkan kemampuan agar mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman.

Ia menilai, keberhasilan seseorang juga tidak cukup hanya diukur dari apakah dirinya telah mendapatkan pekerjaan.

Lebih dari itu, keberhasilan harus dilihat dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada lingkungan melalui pekerjaan maupun pengabdiannya.

Selain kompetensi, Fajar menitipkan pesan tentang pentingnya kegigihan atau grit kepada para wisudawan. Ia meminta lulusan tidak menjadikan kegagalan sebagai alasan untuk berhenti berusaha.

“Ketika kita gagal, jangan selalu menyalahkan faktor di luar diri kita. Pernahkah kita bertanya, apa yang kurang dari diri kita dan apa yang membuat kita tidak berhasil?” pesannya.

Menurutnya, kegagalan harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki diri. Para lulusan diminta berani mengidentifikasi kekurangan, kemudian mencoba kembali dengan strategi dan kemampuan yang lebih baik.

Berita lainnya !

Bagikan: