SUMENEP – Rasa kecewa menyelimuti para anggota aplikasi KS (Kryocore Systems Limited). Harapan memperoleh hasil dari dana yang telah mereka tanamkan kini berubah menjadi kepanikan setelah fitur penarikan dana dilaporkan tidak lagi dapat digunakan.
Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar persoalan uang. Ada tabungan keluarga yang ikut tersimpan, ada hasil kerja bertahun-tahun yang dipertaruhkan, bahkan ada harapan memperbaiki kondisi ekonomi yang kini terancam sirna.
Ironisnya, kondisi yang sejak awal dikhawatirkan sejumlah pihak justru benar-benar terjadi. Aplikasi yang sempat menawarkan keuntungan melalui sistem penyelesaian tugas itu kini menjadi sumber keresahan bagi para anggotanya.
Salah seorang warga Kecamatan Guluk-Guluk berinisial T mengaku sejak awal sebenarnya enggan bergabung. Ia mengaku sudah berkali-kali melihat kasus investasi serupa yang berakhir dengan masalah.
“Saya sebenarnya takut. Banyak contoh aplikasi seperti ini akhirnya berhenti dan uang anggota hilang. Tapi waktu itu saya melihat ada koordinator, ada kantor, dan ada kuasa hukum yang dikenal masyarakat. Itu yang membuat saya akhirnya percaya,” tuturnya.
Menurut T, keberadaan seorang advokat yang dikenal luas masyarakat menjadi salah satu alasan mengapa banyak orang menganggap aplikasi tersebut dapat dipercaya. Sosok yang selama ini dikenal vokal dalam berbagai persoalan hukum dianggap mampu menjadi jaminan moral apabila suatu saat muncul persoalan.
Kini, anggapan itu justru berubah menjadi penyesalan.
Di tengah derasnya keluhan para anggota, keputusan advokat Sulaisi Abdurrazaq yang sebelumnya menjadi kuasa hukum KS ikut menuai sorotan. Sejumlah warga mengaku menyayangkan langkah tersebut. Mereka menilai seorang advokat sekaligus aktivis seharusnya menjadi pihak yang paling depan mengingatkan masyarakat mengenai risiko investasi yang menawarkan keuntungan tinggi dengan model bisnis yang belum dipahami secara utuh.
Apalagi, Sulaisi dikenal sebagai sosok yang pernah memimpin HMI Cabang Pamekasan dan selama ini aktif menyuarakan berbagai isu hukum serta kepentingan masyarakat. Latar belakang tersebut membuat sebagian masyarakat menaruh kepercayaan lebih besar terhadap aplikasi yang didampinginya.
Bagi mereka, kepercayaan itu kini berubah menjadi luka.






