Tujuan Metropolitan Gagal, Jadi Robohkan Saja?
Betul, pembangunan Suramadu memang digadang-gadang sebagai penghubung ekonomi untuk Gerbang Kertosusilo. Faktanya, 15 tahun berjalan, hasilnya belum maksimal. Tapi pertanyaannya: apakah solusinya merobohkan?
Wah, kalau kita mau pakai logika ini, berarti setiap proyek yang gagal mencapai target langsung dihancurkan. Rumah sakit yang sepi pasien? Tutup saja. Sekolah yang tidak mencerdaskan? Runtuhkan saja.
Dari perspektif pembangunan, kegagalan bukan alasan untuk menyerah, apalagi merobohkan. Kegagalan adalah alarm bahwa evaluasi dan intervensi diperlukan. Suramadu belum maksimal karena kawasan Madura belum dioptimalkan untuk menopang konsep metropolitan.
Secara filosofi, jembatan adalah alat, bukan tujuan. Kalau alat ini belum optimal, berarti strategi pengelolaannya yang harus disesuaikan.
Akhir Kata: Jembatan Itu Penghubung, Bukan Pembawa Sial
Kalau kita menganggap Suramadu “pembawa sial,” maka kita terjebak dalam magical thinking—seolah benda mati bisa membawa nasib buruk. Masalah Suramadu adalah masalah manusia, bukan masalah beton dan aspal.
Jadi, kalau pemerintah kurang becus, kritiklah mereka, bukan jembatannya. Kalau keamanan kurang, desak peningkatan patroli. Kalau ekonomi Bangkalan stagnan, cari solusi pembangunan, bukan meruntuhkan infrastruktur yang sudah ada.
Mungkin, daripada dirobohkan, lebih baik kita robohkan dulu ego dan kebiasaan menyalahkan benda mati. Karena, bagaimanapun, Suramadu adalah simbol penghubung dua daerah—bukan pemecah belah.
Jadi, mari kita tinggalkan ide spektakuler “robohkan Suramadu.” Kalau tetap ngotot, ya silakan nostalgia lagi naik kapal feri—biar ingat betapa berharganya jembatan ini sebenarnya. 😉