SURABAYA – PC PMII Surabaya resmi dilantik oleh Ketua Pengurus Besar PMII, M. Shofiyullah Cokro, pada Selasa (25/2) di Gedung Mahameru, Jl. Diponegoro, Surabaya.
Mengusung tema “Kolaborasi, PMII Surabaya Menuju Era Berkemajuan”, pelantikan ini menjadi momentum penting bagi organisasi mahasiswa Islam terbesar di Surabaya untuk menghadapi tantangan zaman dengan semangat baru yang lebih progresif dan adaptif.
Acara ini dihadiri oleh ratusan kader PMII dari berbagai komisariat, serta tamu undangan dari berbagai kalangan, termasuk Ketua Umum PB PMII, Ketua Umum PKC PMII, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surabaya, Majelis Pembina Cabang (Mabincab), serta para alumni.
Gus Shofi: Rebranding PMII Menuju Era Baru
Ketua PB PMII, M. Shofiyullah Cokro, atau yang akrab disapa Gus Shofi, menyampaikan rasa syukur atas pelantikan tersebut.
"Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin, pertama saya ucapkan selamat atas pelantikan PC PMII Surabaya. Saya bahagia bisa berjumpa dengan sahabat-sahabat keluarga besar PMII Surabaya. Semoga ini menjadi momentum kebangkitan PMII yang lahir di Surabaya, dengan semangat perjuangan baru dan rebranding menuju era baru," ujar Gus Shofi.
Ia juga menegaskan bahwa pengurus yang baru harus memiliki komitmen kuat dalam berorganisasi dengan penuh keikhlasan dan tanpa pamrih.
"Sebagai pengurus dan kader yang dilantik, kita harus terus berjuang dan berkhidmah. Kita harus memastikan bahwa gerakan PMII saat ini memiliki arah yang jelas untuk kemanfaatan umat, baik melalui perjuangan maupun pembangunan sumber daya manusia," tambahnya.
MZ. Dhiyaul Haq: Kolaborasi dan Pengembangan SDM Kunci Kemajuan PMII
Salah satu figur yang menjadi perhatian dalam pelantikan ini adalah MZ. Dhiyaul Haq, yang resmi menjabat sebagai Anggota Biro Hubungan dan Komunikasi Gerakan, Kepemudaan, dan Perguruan Tinggi.
Ia juga dikenal sebagai Ketua Rayon PMII Ushuluddin UIN Sunan Ampel Surabaya pada periode 2022-2023.
Dalam wawancaranya, ia menegaskan bahwa kolaborasi, rebranding organisasi, serta penguatan kaderisasi adalah tiga elemen utama yang akan menjadi fokus kepengurusan saat ini.
"Kolaborasi bukan sekadar wacana, tetapi merupakan keniscayaan dalam gerakan mahasiswa hari ini. Dalam filsafat Islam, konsep ta’awun (saling membantu) adalah prinsip dasar kehidupan sosial. Jika PMII ingin tetap relevan dan berkembang, maka sinergi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat sipil, harus menjadi agenda utama," ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya rebranding organisasi agar tetap menarik bagi mahasiswa generasi Z yang cenderung lebih selektif dalam memilih wadah pengembangan diri.
"Dalam teori komunikasi, ada yang disebut dengan self-branding, di mana individu atau organisasi harus membangun citra yang relevan dengan perkembangan zaman. PMII lahir sebagai organisasi pergerakan yang mengedepankan intelektualitas dan keislaman, maka tantangannya adalah bagaimana kita bisa mengemas nilai-nilai itu dalam format yang lebih segar dan inovatif. Ini yang sedang kami bangun di PMII Surabaya," ungkapnya.
Tak hanya itu, ia juga menegaskan bahwa kaderisasi dan pengembangan profesionalitas kader adalah fondasi yang tidak boleh diabaikan.
"Kaderisasi bukan hanya soal doktrin dan ideologi, tetapi juga pengembangan potensi individu. Dalam maqashid syariah, salah satu prinsip utama adalah hifdz al-‘aql (menjaga akal). Artinya, kita harus memastikan bahwa kader PMII tidak hanya aktif dalam diskursus keislaman dan kebangsaan, tetapi juga memiliki keahlian profesional yang bisa mereka bawa ke dunia kerja," tegas Dhiyaul Haq.
Ketua PC PMII Surabaya: Fokus pada Kaderisasi dan Profesionalitas
Sementara itu, Ketua Umum PC PMII Surabaya masa khidmat 2024-2025, Matluk, menyampaikan bahwa pelantikan kali ini berjalan lancar dengan konsep yang lebih segar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Pelantikan ini tidak hanya seremoni, tetapi juga menghadirkan penampilan seni dan kreasi dari kader-kader PMII. Ini adalah bagian dari strategi untuk memperkuat daya tarik organisasi di kalangan mahasiswa," ungkap Matluk.
Matluk juga menambahkan bahwa PC PMII Surabaya akan memberikan wadah bagi kader yang ingin mengembangkan diri di bidang profesional melalui berbagai pelatihan dan program kolaboratif.
"Kami menerapkan dua konsep utama, yakni di bidang kaderisasi dan pengembangan profesionalitas kader. Dengan dua hal ini, PMII Surabaya akan semakin maju dan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat," pungkasnya.
Di akhir sesi, MZ. Dhiyaul Haq kembali menegaskan bahwa PMII harus terus beradaptasi tanpa kehilangan identitasnya sebagai organisasi yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.
"Sebagaimana dikatakan oleh Ibn Khaldun dalam Muqaddimah, peradaban akan bertahan jika memiliki daya adaptasi yang kuat tanpa kehilangan akar identitasnya. PMII harus menjadi garda terdepan dalam mencetak kader-kader yang tidak hanya unggul secara intelektual dan spiritual, tetapi juga siap menghadapi dunia profesional dengan kompetensi yang mumpuni," tutupnya.
Pelantikan ini menandai dimulainya babak baru bagi PC PMII Surabaya, yang siap membawa semangat kolaborasi dan inovasi menuju era berkemajuan.







