Selain persoalan harga, tantangan lain yang masih membayangi musim tanam 2026 adalah keterbatasan air. Di sejumlah wilayah Madura, persoalan kekeringan masih menjadi ancaman tahunan bagi petani tembakau.
Tidak sedikit petani yang harus mengandalkan tadah hujan atau sumber air terbatas untuk menjaga tanaman mereka tetap hidup di tengah cuaca panas yang ekstrem. Kondisi tersebut membuat biaya produksi semakin tinggi karena petani harus mencari alternatif sumber air tambahan.Karena itu, DPD Tani Merdeka Indonesia Pamekasan berharap pemerintah dapat memberikan perhatian lebih terhadap pembangunan infrastruktur pertanian, terutama penyediaan sumur bor dan sistem irigasi.
Bagi petani, bantuan air bukan hanya soal fasilitas pertanian, melainkan tentang keberlangsungan hidup mereka selama musim tanam berlangsung.
“Kami berharap ada solusi nyata untuk persoalan air. Banyak petani di Madura yang masih kesulitan mendapatkan akses air saat musim kemarau,” jelasnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, optimisme petani Madura terhadap tembakau tetap tumbuh. Komoditas ini masih dianggap sebagai salah satu harapan ekonomi terbesar masyarakat desa. Saat musim panen berhasil, perputaran uang di desa-desa tembakau mampu menggerakkan banyak sektor usaha masyarakat.
Mulai dari buruh tani, pedagang kecil, jasa angkutan, hingga pekerja pengolahan tembakau ikut merasakan dampak ekonomi dari hasil panen yang baik.
Karena itu, Basri mengingatkan seluruh pihak, termasuk pengusaha tembakau, agar menjaga ekosistem perdagangan yang sehat dan tidak merugikan petani kecil. Menurutnya, keberlangsungan industri tembakau tidak akan pernah lepas dari peran petani sebagai ujung tombak produksi.
“Petani tembakau adalah tulang punggung ekonomi masyarakat. Mereka harus dilindungi dan diperjuangkan agar tetap bisa bertahan,” pungkasnya.






