Bangkalan – Tradisi santri yang identik dengan semangat gotong royong dan kerja bakti dalam membangun fasilitas pesantren kini mendapat pengakuan formal melalui kegiatan Pembekalan dan Uji Sertifikasi Tukang Pasang Bata (Jenjang 1) yang digelar oleh Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Kegiatan yang berlangsung di Pondok Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Kecamatan Bangkalan, Sabtu (8/11/2025), ini diikuti oleh para santri dengan antusias.
Mereka dibekali pengetahuan dasar konstruksi, mulai dari teknik pemasangan bata sesuai standar, keselamatan kerja, hingga etika profesi di bidang jasa konstruksi.
Program ini tidak hanya berfokus pada pelatihan teknis, tetapi juga menjadi bentuk penghargaan atas kemandirian dan keterampilan santri yang selama ini tumbuh alami di lingkungan pesantren.
Santri yang terbiasa membantu pembangunan asrama, ruang belajar, hingga fasilitas umum di pondok kini difasilitasi untuk mendapatkan sertifikasi profesi sebagai pengakuan resmi atas kemampuan mereka.
Perwakilan Balai Jasa Konstruksi Wilayah IV Surabaya, Esti Dwinda, menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memperluas akses peningkatan kompetensi bagi santri dan pengurus pesantren.
Setelah sebelumnya digelar di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, kegiatan serupa kini juga berlangsung di Nganjuk dan akan berlanjut di berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Yogyakarta.
“Tujuan kami bukan menyiapkan santri menjadi tukang, tetapi membekali mereka dengan pemahaman dasar tentang ilmu konstruksi,” ujar Esti.
“Dengan begitu, jika di kemudian hari pondok membutuhkan perbaikan atau pembangunan sederhana, para santri bisa turut berperan secara mandiri,” Tambahnya.
Esti menegaskan, pelatihan ini bukan bentuk eksploitasi tenaga santri, melainkan wujud pembekalan agar mereka memiliki kemampuan yang diakui secara profesional.
“Mereka bukan dieksploitasi, tapi mereka ikhlas. Karena itu, hari ini kita berikan bekal bagi mereka,” tambahnya.
Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi V, H. Syafiuddin, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, menilai bahwa program ini merupakan langkah penting untuk membekali santri dengan keterampilan praktis di bidang jasa konstruksi.
Ia menilai pelatihan ini lahir dari keprihatinan sekaligus kepedulian terhadap santri yang selama ini dikenal memiliki tradisi membangun pesantren secara swadaya.
“Banyak pondok yang pembangunannya dilakukan secara mandiri. Karena itu, para santri perlu dibekali kemampuan dasar seperti memasang bata agar bisa membantu pembangunan pesantren mereka sendiri,” ujarnya.
Syafiuddin menambahkan, kegiatan ini juga menjadi bukti dukungan pemerintah pusat terhadap pesantren melalui kerja sama antara DPR RI dan Kementerian PU.
“Ini bentuk goodwill negara kepada dunia pesantren. Santri tidak hanya cakap dalam ilmu agama, tetapi juga terampil dan siap bersaing di dunia kerja,” jelasnya.
Ia berharap pelatihan semacam ini dapat berlanjut di pesantren lain di seluruh Nusantara sebagai langkah nyata menyiapkan santri yang mandiri, terampil, dan siap berkontribusi dalam pembangunan bangsa.







