Kecurigaan Publik Terpatahkan: Isu Cawe-Cawe Politik dalam Pemilihan Sekda Sumenep Gugur oleh Fakta

Sumenep – Riuh tudingan, bisik-bisik politik, hingga narasi tentang intervensi kekuasaan yang sejak awal mengiringi proses seleksi Sekretaris Daerah Kabupaten Sumenep kini mulai kehilangan gaungnya. Waktu dan tahapan seleksi berjalan seperti palu yang memecahkan satu per satu asumsi yang selama ini dibangun.

Hal itu disampaikan oleh Analis Kebijakan Publik Sumenep, Efendi Pradana, S.Psi, yang memaparkan hasil kajiannya terhadap proses seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekda yang masih berlangsung.

Menurut Efendi, sejak awal publik disuguhi berbagai spekulasi. Ada yang menyebut bahwa Bupati Sumenep Achmad Fauzi, S.H., M.H. telah memberi restu kepada calon tertentu. Ada pula yang meyakini bahwa seleksi hanyalah formalitas, karena pemenang disebut-sebut sudah disiapkan jauh sebelum tahapan dimulai. Bahkan, beredar pula isu adanya kandidat kuat yang dinilai memiliki kedekatan politik dan kekerabatan dengan tokoh berpengaruh.

Narasi itu beredar luas, diulang, diperkuat, dan diyakini sebagian orang sebagai kebenaran.

Namun kenyataan berbicara lain.

“Proses seleksi berjalan sesuai regulasi, berlapis, dan kompetitif. Fakta-fakta yang terjadi justru mematahkan tuduhan yang sejak awal dilemparkan,” ujar Efendi.

Ia menjelaskan bahwa tahapan seleksi dilakukan secara ketat, mulai dari seleksi administrasi, tes CAT, pembuatan dan pemaparan makalah secara mendadak (on the spot), wawancara, hingga rekomendasi tiga nama terbaik oleh panitia seleksi kepada bupati.

Pada tahap awal, delapan pejabat dinyatakan lolos seleksi administrasi, di antaranya Arif Firmanto, R. Abd. Rahman Riadi, Erie Susanto, Agus Dwi Saputra, Achmad Dzulkarnain, Chainur Rasyid, Ferdiansyah Tetrajaya, dan Mohammad Iksan.

Namun drama seleksi justru terjadi di lapangan, bukan dalam rumor.

Arif Firmanto, yang sebelumnya digadang-gadang sebagai calon paling kuat dan disebut memiliki kedekatan dengan tokoh politik nasional, justru mengundurkan diri sebelum tes CAT berlangsung.

Tidak lama berselang, setelah tes CAT dilaksanakan, Erie Susanto, sosok lain yang disebut-sebut memiliki pengaruh kuat, tidak lolos pada tahapan tersebut.

Dua peristiwa ini menjadi titik balik yang memukul runtuh narasi bahwa pemenang sudah ditentukan sejak awal.

“Jika semua sudah diatur sejak awal, maka dinamika seperti ini tidak mungkin terjadi. Seleksi justru menunjukkan bahwa setiap kandidat benar-benar diuji,” tegas Efendi.

Ia menilai, realitas yang terjadi hari ini seakan menjadi jawaban diam terhadap berbagai tudingan yang sebelumnya begitu lantang. Opini boleh dibangun dengan keras, tetapi fakta berjalan dengan tenang—dan pada akhirnya, fakta selalu lebih kuat.

Proses seleksi sendiri masih jauh dari garis akhir. Para kandidat yang tersisa akan menghadapi tahapan berat berikutnya, yakni pembuatan makalah secara on the spot yang akan direviu oleh panitia seleksi dari kalangan akademisi dan guru besar di Jawa Timur, dilanjutkan dengan wawancara mendalam yang menguji gagasan, visi birokrasi, serta kemampuan memimpin orkestrasi pemerintahan.

Dari seluruh tahapan itu, hanya tiga nama terbaik yang akan direkomendasikan kepada Bupati Sumenep. Penentuan akhir akan mempertimbangkan kompetensi, kemampuan mengakselerasi kinerja birokrasi, serta komitmen dan loyalitas kepada masyarakat dan arah pembangunan daerah.

Efendi menegaskan, hak prerogatif Bupati Sumenep selaku pemegang amanah rakyat baru akan digunakan pada tahap akhir, setelah seluruh proses seleksi pansel selesai dan rekomendasi panitia seleksi diserahkan.

“Artinya, tuduhan tentang intervensi sejak awal tidak memiliki pijakan yang kuat. Proses masih panjang, dan mekanisme berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.

Ia menutup pemaparannya dengan satu kalimat yang menggambarkan situasi hari ini:

“Kadang yang paling bising adalah rumor, tetapi yang paling menentukan adalah fakta. Dan hari ini, fakta berbicara semakin terang di hadapan publik.”

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar