Tidak lama berselang, setelah tes CAT dilaksanakan, Erie Susanto, sosok lain yang disebut-sebut memiliki pengaruh kuat, tidak lolos pada tahapan tersebut.
Dua peristiwa ini menjadi titik balik yang memukul runtuh narasi bahwa pemenang sudah ditentukan sejak awal.
“Jika semua sudah diatur sejak awal, maka dinamika seperti ini tidak mungkin terjadi. Seleksi justru menunjukkan bahwa setiap kandidat benar-benar diuji,” tegas Efendi.
Ia menilai, realitas yang terjadi hari ini seakan menjadi jawaban diam terhadap berbagai tudingan yang sebelumnya begitu lantang. Opini boleh dibangun dengan keras, tetapi fakta berjalan dengan tenang—dan pada akhirnya, fakta selalu lebih kuat.
Proses seleksi sendiri masih jauh dari garis akhir. Para kandidat yang tersisa akan menghadapi tahapan berat berikutnya, yakni pembuatan makalah secara on the spot yang akan direviu oleh panitia seleksi dari kalangan akademisi dan guru besar di Jawa Timur, dilanjutkan dengan wawancara mendalam yang menguji gagasan, visi birokrasi, serta kemampuan memimpin orkestrasi pemerintahan.
Dari seluruh tahapan itu, hanya tiga nama terbaik yang akan direkomendasikan kepada Bupati Sumenep. Penentuan akhir akan mempertimbangkan kompetensi, kemampuan mengakselerasi kinerja birokrasi, serta komitmen dan loyalitas kepada masyarakat dan arah pembangunan daerah.
Efendi menegaskan, hak prerogatif Bupati Sumenep selaku pemegang amanah rakyat baru akan digunakan pada tahap akhir, setelah seluruh proses seleksi pansel selesai dan rekomendasi panitia seleksi diserahkan.
“Artinya, tuduhan tentang intervensi sejak awal tidak memiliki pijakan yang kuat. Proses masih panjang, dan mekanisme berjalan sebagaimana mestinya,” ujarnya.
Ia menutup pemaparannya dengan satu kalimat yang menggambarkan situasi hari ini:
“Kadang yang paling bising adalah rumor, tetapi yang paling menentukan adalah fakta. Dan hari ini, fakta berbicara semakin terang di hadapan publik.”







