Mentalitas Escapism: Lari dari Masalah atau Cari Solusi?
Fenomena #KaburAjaDulu ini juga bisa dilihat dari sudut pandang psikologi sosial. Ada istilah namanya Escapism, yaitu kecenderungan seseorang untuk melarikan diri dari realitas yang nggak menyenangkan.
Dalam konteks ini, banyak orang merasa Indonesia terlalu toxic untuk masa depan mereka. Gaji kecil, kerjaan susah, politik ribet, harga rumah mahal—kalau hidup kayak gini terus, rasanya lebih mudah untuk uninstall daripada update.
Fenomena ini diperparah oleh media sosial, di mana orang-orang melihat teman-temannya sudah sukses di luar negeri dan mulai terkena FOMO (Fear of Missing Out). Mereka berpikir,
“Kalau dia bisa sukses di Jepang, kenapa gue harus bertahan di sini?”
Padahal, pindah ke luar negeri juga bukan jaminan bahagia. Ada yang sukses, ada yang justru tambah stres. Masalahnya, kita sering hanya melihat hasil akhirnya tanpa memahami perjuangan di balik layar.
Jadi, sebelum ikut-ikutan #KaburAjaDulu, pertimbangkan dulu:
- Apakah pindah ke luar negeri benar-benar solusi?
- Atau cuma bentuk pelarian dari ketidakmampuan kita menghadapi tantangan di dalam negeri?
Solusi: Mau Kabur atau Mau Berbenah?
Oke, sekarang kita sampai di bagian penting: Apa yang bisa kita lakukan?
- Pemerintah harus sadar kalau rakyat bukan ATM berjalan.
- Kebijakan ekonomi harus lebih pro-rakyat, bukan sekadar pencitraan di media sosial.
- Reformasi tenaga kerja harus lebih serius, bukan sekadar wacana.
- Rakyat harus mulai berpikir kritis, bukan hanya ikut tren.
- Mau pindah ke luar negeri? Oke, tapi rencanakan dengan matang.
- Mau tetap di Indonesia? Perjuangkan perubahan, jangan cuma mengeluh.
- Generasi muda harus mulai membangun, bukan sekadar menghindar.
- Edukasi finansial dan keterampilan harus jadi prioritas.
- Kritik kebijakan pemerintah itu perlu, tapi harus berbasis solusi.
Masih Mau Kabur?
Fenomena #KaburAjaDulu ini bukan sekadar keluhan spontan, tapi refleksi dari realitas yang pahit. Negara yang baik adalah negara yang bisa membuat rakyatnya ingin tinggal, bukan yang membuat rakyatnya ingin kabur.
Tapi sebelum kita berpikir untuk kabur, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri:
“Apakah kita benar-benar sudah kehabisan cara untuk memperbaiki keadaan? Atau kita hanya memilih jalan yang lebih mudah?”
Jadi, mau berjuang atau mau kabur?
Pilihan ada di tangan kita.