Bangkalan - Kejaksaan Negeri Bangkalan resmi melepas Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Hendrik Murbawan yang kini mendapat amanah baru sebagai Kasi Intelijen Kejaksaan Negeri Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Sosok yang dikenal tegas dan tak kenal kompromi di ruang sidang itu meninggalkan kesan mendalam selama satu tahun sembilan bulan bertugas di Kota Dzikir dan Sholawat.
Di meja hijau, nama Hendrik bukan sosok yang asing. Dengan postur tinggi, tegap, dan berkacamata, ia kerap tampil penuh keyakinan saat membacakan dakwaan maupun tuntutan.
Argumentasinya runtut, nadanya tegas, dan sikapnya lugas. Sejumlah perkara besar pernah ia kawal, mulai dari kasus perkelahian Hasan dan Wardi di Tanjung Bumi, pencabulan santri oleh oknum kiai di Socah, hingga pembunuhan tragis mahasiswi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) di Galis.
Dalam setiap perkara, Hendrik dikenal detail dan disiplin. Ia tak ragu berdiri keras pada prinsip penegakan hukum. Baginya, ruang sidang adalah ruang pertanggungjawaban moral sekaligus profesional.
“Setiap perkara punya dampak sosial. Di situlah kami harus hadir memastikan hukum ditegakkan seadil-adilnya,” pernah ia sampaikan.
Namun siapa sangka, di balik sosoknya yang garang di meja hijau, Hendrik justru bisa “lemas tak berdaya” saat memegang stik PlayStation.
Di luar jam dinas, pria yang akrab disapa Bang Hendrik itu dikenal gemar bermain game sepak bola dan laga strategi. Hobi itulah yang membuatnya akrab dengan banyak kalangan, termasuk awak media.
Tak jarang, di hari libur, ia mengajak wartawan atau rekan sejawat berkumpul santai, bertanding game sambil bercengkerama.
Suasana yang biasanya penuh ketegangan di ruang sidang berubah menjadi tawa lepas saat ia kalah adu penalti atau kecolongan gol di menit akhir.
“Kalau sudah main PS, saya bukan jaksa, tapi pemain yang siap kalah,” ujarnya sambil tersenyum dalam sebuah kesempatan.
Bagi Hendrik, menjaga keseimbangan antara profesionalitas dan relasi personal adalah kunci dalam menjalankan amanah. Ketegasan dalam tugas, menurutnya, tidak harus menghilangkan sisi humanis dalam kehidupan sehari-hari.
Mutasi ke Brebes diakuinya bukan hal mudah. Banyak kenangan, dinamika perkara, hingga persaudaraan yang terjalin selama bertugas di Bangkalan.
Ia menyebut setiap kasus yang ditangani memberinya pelajaran tentang kompleksitas sosial dan budaya Madura.
“Dari berbagai kasus itu saya belajar bahwa Madura punya kearifan lokal dan tantangan tersendiri yang tidak ditemui di daerah lain,” ungkapnya.
Di akhir perpisahan, Hendrik menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membersamai langkahnya, sekaligus memohon maaf jika selama bertugas terdapat kekhilafan.
“Semoga komunikasi dan kekeluargaan tetap terjalin. Mudah-mudahan suatu saat bisa dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik,” pungkasnya.







