“Kalau sudah main PS, saya bukan jaksa, tapi pemain yang siap kalah,” ujarnya sambil tersenyum dalam sebuah kesempatan.
Bagi Hendrik, menjaga keseimbangan antara profesionalitas dan relasi personal adalah kunci dalam menjalankan amanah. Ketegasan dalam tugas, menurutnya, tidak harus menghilangkan sisi humanis dalam kehidupan sehari-hari.
Mutasi ke Brebes diakuinya bukan hal mudah. Banyak kenangan, dinamika perkara, hingga persaudaraan yang terjalin selama bertugas di Bangkalan.
Ia menyebut setiap kasus yang ditangani memberinya pelajaran tentang kompleksitas sosial dan budaya Madura.
“Dari berbagai kasus itu saya belajar bahwa Madura punya kearifan lokal dan tantangan tersendiri yang tidak ditemui di daerah lain,” ungkapnya.
Di akhir perpisahan, Hendrik menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membersamai langkahnya, sekaligus memohon maaf jika selama bertugas terdapat kekhilafan.
“Semoga komunikasi dan kekeluargaan tetap terjalin. Mudah-mudahan suatu saat bisa dipertemukan lagi dalam keadaan yang lebih baik,” pungkasnya.







