Bangkalan - Saya sering buka Tiktok akhir-akhir ini, dan yang sering muncul Fyp (For Your Page) di layar Tiktok saya tentang postingan jangan pacaran sama orang Bangkalan, kalau tidak mau dibakar.Hahaha.
Macem-macem lah, ada juga yang bilang, jangan pacaran sama orang Madura, nanti digorok lalu di bakar. Memang Beberapa hari belakangan media sosial tiktok ramai membahas tentang kisah percintaan seorang pemuda asal Galis dengan mahasiswa UTM asal Tulungagung.
Percintaan mereka berujung tragis dengan kematian si perempuan karena tak mau menggugurkan kandungannya, ia lantas dibunuh lalu jazadnya dibakar.
Peristiwa itu lalu viral, tapi saya tidak mau membahas soal tragedi cinta berdarah itu, saya hanya ingin membahas bagaimana kejadian itu lantas membuat stereotip (pandangan) orang luar kepada orang-orang Bangkalan.
Dulu kita dikenal dengan stereotip tukang jual besi tua. Lalu orang Madura pada umumnya (Sumenep) utamanya pernah viral di tiktok sebagai toko klontong Madura yang buka 24 jam.
Lalu sekarang Stereotip negatif terhadap masyarakat Madura, khususnya Bangkalan, sering kali muncul akibat pemberitaan yang berlebihan dan stereotip negatif yang terbentuk pasca kasus yang terjadi akhir-akhir ini.
Beberapa pihak mungkin mengaitkan peristiwa ini dengan stereotip lama bahwa cara penyelesaian konflik orang Madura cenderung menggunakan kekerasan dan tidak mengedepankan dialog.
Dalam pandangan negatif ini, masyarakat khususnya warga Bangkalan dianggap kurang menghormati nilai-nilai kemanusiaan dan hukum, serta lebih memilih cara-cara ekstrem untuk menyelesaikan masalah.
Tidak hanya itu, banyak sekali meme atau kata-kata yang berseliweran di media sosial seperti se andik pacar oreng Bhangkalan dhulih putusin takok eyobbher arti dalam bahasa Indonesianya yang punya pacar orang Bangkalan segera putusin takut dibakar.
Dengan viral nya kasus ini memperkuat stereotip warga luar terhadap suku Madura yang identik dengan "Warga Mexico". Namun, penting untuk disadari bahwa stereotip semacam ini tidak adil dan merugikan masyarakat secara keseluruhan.
Tindakan yang dilakukan oleh satu individu atau kelompok kecil tidak dapat menggambarkan perilaku seluruh komunitas masyarakat.
Oleh karena itu, diperlukan edukasi dan pendekatan yang lebih bijaksana untuk menghapus stigma yang dapat memperburuk hubungan antarbudaya dan masyarakat.
Misal melalui institusi Pendidikan yang menurut saya dapat merubah pola pikir masyarakat sekitar sebagai mahasiswa PPG Prajabatan saya beranggapan bahwa kurangnya penerapan pendekatan Social Emotional Learning (SEL) secara masif.
Hal tersebut menjadi masalah yang perlu diperhatikan. Selain itu, pendekatan ini dapat membantu peserta didik mengembangkan kemampuan pengelolaan emosi, empati, dan keterampilan sosial, yang pada akhirnya dapat mencegah perilaku impulsif serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya menghormati hak dan martabat orang lain.
Dengan demikian, pendidikan berbasis SEL tidak hanya membentuk individu yang cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter dan mampu memberikan kontribusi positif kepada masyarakat.
Mungkin itu juga terlalu ribet dan butuh proses yang lama, lalu bagaimana solusi jangka pendeknya, kita buat saja konten-konten konyol yang menampilkan cara berpikir unik orang Madura atau Bangkalan.
Misalnya, jualan bensin eceran didepan pintu masuk pom bensin, atau jadikan jembatan Suramadu sebagai spot memancing yang asyik. Hahaha bercanda, dan yang lebih baru mungkin, jualan mie di depan gerai mie Gacoan.
Entahlah, yang jelas saya bisa pastikan jangan takut punya pacar orang Bangkalan, tidak semua orang Bangkalan berani membakar kok, meskipun banyak juga dari cowok Bangkalan yang belum berani membawa pacarnya ke pelaminan. Hahahahha.
Baca terus konten-konten artikel, berita dan opini menarik lainnya hanya di katamadura.com