Dari sisi pelaksana, Ketua Koperasi Desa Parseh, Zainal Arifin, menyampaikan rasa syukur karena desanya dipilih sebagai lokasi percontohan. Ia menyebut, koperasi di Desa Parseh berkomitmen mengembangkan potensi lokal, khususnya sektor pertanian dan pengemasan beras.
“Desa kami memiliki pabrik beras terbesar di Madura yang sempat vakum karena keterbatasan pasokan. Dengan adanya Gerai Koperasi, kami ingin menghidupkan kembali aktivitas penggilingan dan pengemasan beras lokal, agar gabah petani tidak keluar dari Bangkalan,” ujarnya.
Meski demikian, Zainal menyoroti masih adanya kendala teknis dalam sistem digitalisasi pengajuan proposal melalui platform SiKopDes (Sistem Informasi Koperasi Desa) yang belum sepenuhnya adaptif terhadap karakteristik potensi masing-masing desa.
“Kami berharap sistem ini bisa lebih fleksibel agar desa dapat mengajukan usaha berbasis potensi lokal,” imbuhnya.
Zainal juga menegaskan tekad masyarakat Desa Parseh untuk menjadikan desanya sebagai contoh keberhasilan pemberdayaan ekonomi melalui koperasi.
“Selama ini Parseh dikenal sebagai zona merah. Kini kami ingin membalik stigma itu dan menunjukkan bahwa Parseh bisa menjadi desa mandiri dan produktif,” tegasnya.







