Gerai Koperasi Merah Putih Hadir di Desa Parseh, Dorong Ekonomi Warga

Kepala Desa Parseh Moh Ilyas saat meletakkan Batu Pertama Pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih

Bangkalan — Desa Parseh, Kecamatan Socah, terpilih sebagai salah satu dari tujuh desa di Kabupaten Bangkalan yang menjadi pilot project pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih, program nasional yang digagas pemerintah pusat untuk memperkuat ekonomi masyarakat desa melalui koperasi produktif.

Gerai Koperasi Merah Putih ini merupakan hasil kolaborasi lintas kementerian, antara lain Kementerian Koperasi dan UKM, Kementerian Desa PDTT, serta 12 kementerian lainnya - yang berfokus pada penguatan ekonomi berbasis potensi lokal di pedesaan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bangkalan, Ismed Efendi, menjelaskan bahwa dari total 281 desa di Bangkalan, hanya tujuh desa yang dipilih di tahap awal pembangunan Gerai Koperasi.

Ketujuh desa tersebut adalah Desa Parseh (Kecamatan Socah), Desa Pangeleyan (Tanah Merah), Desa Lomaer (Blega), Desa Katol Barat (Geger), Desa Banyubesi (Tragah), Desa Ko’ol (Klampis), dan Desa Batonaong (Arosbaya).

“Desa Parseh menjadi percontohan karena memenuhi seluruh kriteria, mulai dari ketersediaan lahan strategis milik desa hingga kesiapan kelembagaan koperasinya,” ungkap Ismed usai kegiatan peletakan batu pertama gerai Koperasi Merah putih di desa Parseh Kecamatan Socah Jumat (17/10).

Menurutnya, pembangunan Gerai Koperasi akan mengadopsi model bangunan multifungsi yang bisa difungsikan sebagai toko, gudang sembako, pupuk, hasil pertanian, hingga apotek desa.

Gerai ini diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat serta mempercepat distribusi kebutuhan pokok di wilayah pedesaan.

“Gerai Koperasi ini akan menjadi pusat ekonomi baru desa. Koperasi dapat menampung hasil pertanian warga dan menyalurkannya kembali secara efisien. Jadi, perputaran ekonomi benar-benar terjadi di desa,” tambahnya.

Sementara itu, Dandim 0829/Bangkalan Letkol Arm Nanang Suhendar menegaskan bahwa pembangunan Gerai Koperasi Merah Putih merupakan bagian dari program nasional yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia dengan target 80 ribu unit.

Di Bangkalan, pelaksanaan dilakukan bertahap dengan pendampingan dari TNI dan BUMN, salah satunya PT Agrinas.“TNI akan mendampingi agar pembangunan sesuai regulasi, baik dari aspek lahan maupun kesiapan koperasi di tiap desa,” jelasnya.

Dari sisi pelaksana, Ketua Koperasi Desa Parseh, Zainal Arifin, menyampaikan rasa syukur karena desanya dipilih sebagai lokasi percontohan. Ia menyebut, koperasi di Desa Parseh berkomitmen mengembangkan potensi lokal, khususnya sektor pertanian dan pengemasan beras.

“Desa kami memiliki pabrik beras terbesar di Madura yang sempat vakum karena keterbatasan pasokan. Dengan adanya Gerai Koperasi, kami ingin menghidupkan kembali aktivitas penggilingan dan pengemasan beras lokal, agar gabah petani tidak keluar dari Bangkalan,” ujarnya.

Meski demikian, Zainal menyoroti masih adanya kendala teknis dalam sistem digitalisasi pengajuan proposal melalui platform SiKopDes (Sistem Informasi Koperasi Desa) yang belum sepenuhnya adaptif terhadap karakteristik potensi masing-masing desa.

“Kami berharap sistem ini bisa lebih fleksibel agar desa dapat mengajukan usaha berbasis potensi lokal,” imbuhnya.

Zainal juga menegaskan tekad masyarakat Desa Parseh untuk menjadikan desanya sebagai contoh keberhasilan pemberdayaan ekonomi melalui koperasi.

“Selama ini Parseh dikenal sebagai zona merah. Kini kami ingin membalik stigma itu dan menunjukkan bahwa Parseh bisa menjadi desa mandiri dan produktif,” tegasnya.

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar