SUMENEP — Festival Kebudayaan Pesisir Utara Sumenep (Festapora) 2026 sukses menghadirkan perhelatan budaya yang memadukan kekayaan tradisi, geliat ekonomi masyarakat, serta semangat pelestarian kebudayaan lokal.
Mengusung tema “Beautiful Sunset of Pantura”, Festapora digelar pada Sabtu, 22 Agustus 2026, dan dipusatkan di kawasan Pantai Slopeng, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Madura.
Rangkaian kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat pesisir utara Sumenep untuk memperkenalkan beragam khazanah budaya yang selama ini hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Tak sekadar menjadi tontonan, Festapora juga dirancang sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem kebudayaan sekaligus memberikan dampak sosial dan ekonomi secara langsung kepada masyarakat lokal.
Kirab Budaya Pantura Libatkan 15 Desa
Salah satu rangkaian utama Festapora 2026 adalah Kirab Budaya Pantai Utara, yang melibatkan perwakilan dari 15 desa di Kecamatan Dasuk.Kirab dimulai dari Tugu Perahu (Kong Jhukongan) dan berakhir di kawasan Pantai Slopeng. Sepanjang perjalanan, masyarakat disuguhkan berbagai pertunjukan seni dan budaya khas Sumenep.
Peserta kirab menampilkan sejumlah kesenian tradisional, mulai dari tari tradisional Sarka’, musik Saronen, hingga pagelaran busana adat daerah.
Antusiasme masyarakat terlihat dari banyaknya warga yang memadati jalur kirab. Ribuan penonton hadir untuk menyaksikan langsung kemeriahan pertunjukan budaya yang menjadi bagian penting dari identitas masyarakat pesisir utara Sumenep tersebut.
Kirab ini sekaligus menjadi gambaran bahwa tradisi lokal masih memiliki ruang yang kuat di tengah perkembangan zaman apabila dikemas secara kreatif dan melibatkan masyarakat secara langsung.
Expo UMKM Dorong Perputaran Ekonomi Masyarakat
Selain mengedepankan aspek kebudayaan, Festapora 2026 juga memberikan perhatian besar terhadap sektor ekonomi masyarakat.Melalui Expo UMKM, sebanyak 35 pelaku UMKM lokal dilibatkan dalam rangkaian festival. Kehadiran pelaku usaha lokal tersebut menjadi salah satu instrumen penting untuk memastikan bahwa penyelenggaraan festival tidak berhenti pada aspek hiburan dan pertunjukan semata.
Produk-produk masyarakat mendapatkan ruang untuk diperkenalkan kepada pengunjung, sekaligus membuka peluang terjadinya transaksi dan memperluas pasar bagi pelaku UMKM.
Pelibatan UMKM tersebut juga sejalan dengan gagasan utama penyelenggara untuk menghadirkan kegiatan yang memiliki dampak sosial ekonomi secara nyata bagi masyarakat sekitar.
Malam Puncak dan Petik Laut Hadirkan Ragam Seni Tradisi
Kemegahan Festapora berlanjut pada malam puncak sekaligus Petik Laut, yang berlangsung mulai pukul 19.30 hingga 23.00 WIB.
Panggung malam puncak menyajikan pertunjukan tari kolosal yang menghadirkan berbagai ragam seni dan budaya, di antaranya Gambuh Pamungkas, Muang Sangkal, Gandrung, serta tari kreasi yang dipersembahkan oleh Sanggar Rukun Pewaras.
Rangkaian pertunjukan tersebut memperlihatkan keberagaman ekspresi seni Nusantara yang dikemas dalam satu panggung kebudayaan.Pada penghujung acara, masyarakat Pantura kembali disuguhkan dengan penampilan Topeng Dalang Rukun Pewaras, kesenian ikonik yang memiliki posisi penting dalam khazanah kebudayaan Kabupaten Sumenep.
Pertunjukan Topeng Dalang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi momentum untuk kembali memperkenalkan salah satu aset budaya Sumenep kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Budaya Berjalan Bersama Kepedulian Sosial
Festapora 2026 juga tidak mengesampingkan aspek sosial. Di tengah kemeriahan festival, panitia menyelenggarakan kegiatan bakti sosial berupa santunan kepada anak yatim serta pembagian sembako kepada para lansia.
Kegiatan tersebut mempertegas bahwa festival kebudayaan dapat memiliki dimensi yang lebih luas. Kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana membangun kebersamaan, kepedulian, dan solidaritas masyarakat.
Dengan demikian, Festapora mencoba menghadirkan konsep festival yang menghubungkan tiga aspek sekaligus, yakni kebudayaan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, dan kepedulian sosial.
PIC: Mengenalkan Kompleksitas Tradisi Pesisir Utara
Efendi Pradana, S.Psi., selaku PIC Festapora, menjelaskan bahwa gagasan awal penyelenggaraan festival tersebut berangkat dari keinginan untuk memperkenalkan kekayaan tradisi masyarakat pesisir utara Sumenep yang begitu kompleks.
Menurut Efendi, kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Pantura perlu mendapatkan ruang agar dapat dikenal secara lebih luas, sekaligus tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Namun, ia menegaskan bahwa tujuan Festapora tidak berhenti pada pengenalan budaya.Hal yang paling fundamental, kata Efendi, adalah bagaimana kegiatan tersebut dapat memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat lokal.
Salah satu bentuk konkretnya adalah keterlibatan puluhan pelaku UMKM dalam Expo UMKM Festapora.
Pelibatan tersebut diharapkan mampu menciptakan perputaran ekonomi selama festival berlangsung sekaligus membuka kesempatan bagi produk-produk lokal untuk semakin dikenal masyarakat.
Disbudporapar Sumenep Berikan Apresiasi
Apresiasi terhadap pelaksanaan Festapora juga disampaikan Faruk Hanafi, selaku Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Budporapar) Kabupaten Sumenep.
Faruk mengaku sangat terpukau dengan terselenggaranya festival tersebut. Ia menilai antusiasme masyarakat menjadi salah satu indikator bahwa kegiatan kebudayaan seperti Festapora memiliki daya tarik yang kuat di tengah masyarakat.
Selain tingginya partisipasi masyarakat, pertunjukan yang disajikan juga dinilai mampu menghadirkan kemasan budaya yang megah dan menarik.
Dukungan tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan kegiatan serupa sebagai bagian dari upaya memperkuat promosi kebudayaan dan pariwisata Kabupaten Sumenep.
Target Lebih Besar: Kolaborasi Empat Kabupaten di Madura
Ke depan, Festapora tidak ingin berhenti sebagai festival kebudayaan tingkat lokal.Efendi Pradana mengungkapkan bahwa dirinya bersama tim telah memiliki gagasan untuk mengembangkan Festapora dengan menggandeng tiga kabupaten lain di Madura.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bersama bagi empat kabupaten di Madura untuk memperkenalkan karakter dan khazanah kebudayaan masing-masing.
Gagasan tersebut sekaligus diarahkan untuk membangun narasi baru tentang Madura.Menurut Efendi, Madura memiliki kekayaan budaya yang sangat besar, mulai dari seni pertunjukan, tradisi masyarakat, kuliner, busana adat, hingga berbagai ritual yang berkembang di setiap daerah.
Karena itu, ia berharap masyarakat di luar Madura dapat melihat pulau tersebut secara lebih utuh dan tidak hanya mengenalnya melalui stereotip negatif yang selama ini kerap dilekatkan pada masyarakat Madura, seperti kekerasan dan kriminalitas.
Melalui kebudayaan, Madura diharapkan dapat menunjukkan identitas lain yang jauh lebih kaya: masyarakat dengan tradisi, seni, kreativitas, solidaritas, dan warisan budaya yang beragam.
Festapora dan Masa Depan Kebudayaan Pantura
Pelaksanaan Festapora 2026 menunjukkan bahwa festival kebudayaan dapat menjadi lebih dari sekadar agenda pertunjukan tahunan.
Ketika masyarakat dilibatkan sebagai pelaku, seniman diberikan ruang berekspresi, UMKM mendapatkan akses pasar, serta kelompok masyarakat rentan turut mendapatkan perhatian sosial, festival dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem yang memberikan manfaat lebih luas.
“Beautiful Sunset of Pantura” pada akhirnya bukan hanya menggambarkan keindahan matahari terbenam di kawasan pesisir utara Sumenep.
Tema tersebut juga menjadi simbol tentang bagaimana kekayaan budaya masyarakat Pantura dapat menjadi cahaya yang memperkenalkan identitas Sumenep dan Madura kepada khalayak yang lebih luas.
Festapora 2026 menjadi salah satu langkah untuk membuktikan bahwa kebudayaan dapat menjadi pintu masuk bagi pelestarian tradisi, penguatan ekonomi lokal, pembangunan solidaritas sosial, sekaligus promosi identitas daerah.
Dan jika rencana kolaborasi empat kabupaten di Madura benar-benar terealisasi pada tahun-tahun mendatang, Festapora berpotensi berkembang dari sebuah festival lokal menjadi panggung bersama kebudayaan Madura.






