Kesehatan: Puskesmas Ditinggalkan, Klinik Swasta Jadi Pilihan
Di sektor kesehatan, kondisi tak kalah memprihatinkan. Masyarakat Dasuk justru lebih memilih melakukan rujukan mandiri ke klinik di kecamatan lain ketimbang memanfaatkan puskesmas setempat. Alasannya klasik namun krusial: fasilitas dan kualitas pelayanan dinilai lebih baik di luar wilayah Dasuk.
Fakta ini menjadi alarm keras bahwa peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar belum menjadi prioritas serius pemerintah kecamatan, padahal sektor kesehatan adalah fondasi kesejahteraan masyarakat.
Pendidikan Mandek: SMP Satu-satunya, SMA Negeri Hanya Ilusi Semata
Ketertinggalan paling mencolok terlihat di sektor pendidikan. Kecamatan Dasuk hanya memiliki satu SMP Negeri dan tidak memiliki satu pun SMA yang berkapasitas. Akibatnya, para siswa yang ingin melanjutkan pendidikan menengah atas harus pergi ke Kecamatan Ambunten atau ke pusat Kota Sumenep dengan jarak sekitar ±20 kilometer. Kondisi ini jelas menghambat akses pendidikan dan berpotensi memperbesar angka putus sekolah, khususnya bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Data BPS Bicara: SDM Dasuk dalam Kondisi Darurat
Data BPS Kabupaten Sumenep mempertegas ketimpangan pembangunan SDM di Dasuk. Tercatat: 15.473 orang putus sekolah atau tidak tamat SD, 10.889 tamatan SD, 2.344 tamatan SMP, 1.480 tamatan SLTA dan 490 orang bergelar sarjana.
Komposisi ini menunjukkan kesenjangan ekstrem antara tenaga tidak terampil dan tenaga terdidik, yang pada akhirnya melemahkan stabilitas ekonomi dan menghambat misi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Potensi Wisata Besar, Tapi Tak Jadi Stimulus Ekonomi
Padahal, Dasuk memiliki destinasi wisata unggulan Kabupaten Sumenep, seperti Pantai Slopeng, sumber pemandian, dan potensi alam lainnya. Sayangnya, potensi ini belum mampu menjadi pengungkit ekonomi maupun daya tarik masuknya fasilitas pelayanan publik dan investasi. Kondisi ini kembali mengarah pada satu simpulan: lemahnya perencanaan strategis dan koordinasi lintas sektor di tingkat kecamatan.







