#KaburAjaDulu: Ketika Rakyat Mulai Main Petak Umpet dengan Negaranya Sendiri

#KaburAjaDulu
Ilustrasi by AI; #KaburAjaDulu

Beberapa hari terakhir, jagat maya Indonesia digemparkan dengan tagar #KaburAjaDulu. Sebuah seruan sederhana yang kalau diterjemahkan ke bahasa akademis berarti: “Saya muak, saya capek, saya mau pindah!”

Coba bayangkan, negara yang katanya penuh potensi, kaya sumber daya, punya budaya luhur, malah bikin warganya ingin melarikan diri. Ini seperti punya rumah gede, tapi bocor di mana-mana, penuh nyamuk, dan listriknya mati-mati. Wajarlah kalau penghuninya mulai berpikir, “Mending ngontrak di luar aja, deh.”

Tapi pertanyaannya, kenapa banyak orang tiba-tiba ingin ‘kabur’ dari negeri sendiri? Apakah mereka sekadar latah? Atau ada alasan ilmiah yang lebih dalam? Mari kita bahas dengan gaya santai tapi tetap berlandaskan riset, biar obrolan kita nggak sekadar cuap-cuap warung kopi.


Ekonomi yang Sempit, Impian yang Luas

Di Indonesia, urusan perut sering kali lebih pelik daripada urusan hati. Banyak orang yang sudah bekerja mati-matian tapi gajinya tetap UMR (Uang Mepet Receh). Belum lagi harga kebutuhan pokok yang makin meroket, seakan-akan inflasi itu bukan sekadar angka di berita, tapi monster yang menghisap isi dompet rakyat.

Secara akademis, ini bisa dijelaskan dengan Teori Push and Pull Migration (Lee, 1966). Faktor push adalah tekanan hidup di negara asal: gaji rendah, biaya hidup tinggi, dan kesempatan kerja yang terbatas. Sementara faktor pull adalah daya tarik negara lain: gaji besar, fasilitas keren, dan masa depan lebih cerah.

Data dari Bank Dunia menunjukkan bahwa Indonesia masuk dalam kategori negara dengan upah minimum yang rendah dibanding biaya hidupnya. Jadi, kalau ada anak muda berpikir untuk #KaburAjaDulu ke luar negeri demi gaji yang lebih layak, bisa dimaklumi. Mereka bukan pengkhianat negara, mereka hanya ingin bertahan hidup.

Politik: Kepercayaan Rakyat itu Mahal, Jangan Dibuat Diskon

Bukan rahasia lagi kalau kepercayaan rakyat terhadap pemerintah itu naik-turun seperti harga saham. Setiap kebijakan baru yang terasa “aneh bin ajaib” selalu sukses bikin warganet geram. Entah itu pajak aneh, regulasi nggak masuk akal, atau drama politik yang lebih seru dari sinetron.

Dalam Teori Legitimasi Politik (Weber, 1978), kepercayaan rakyat adalah fondasi utama negara. Kalau rakyat mulai merasa pemerintah lebih sibuk mengurus kepentingan sendiri ketimbang memperbaiki kualitas hidup mereka, jangan heran kalau muncul fenomena #KaburAjaDulu.

Survei terbaru dari berbagai lembaga riset politik menunjukkan bahwa tingkat kepuasan terhadap kebijakan publik cenderung menurun, terutama di kalangan anak muda. Dan ini bahaya, karena kalau generasi muda kehilangan harapan, lalu siapa yang akan membangun negara ini ke depan?

Jadi, kalau pejabat masih sibuk dengan urusan sendiri sambil bilang “Rakyat harus cinta tanah air”, mungkin rakyat akan menjawab:
“Iya, Pak, kami cinta, tapi kalau kami lapar terus, cinta ini bisa luntur.”

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar