Rokok SKT Produksi Tenant APHT Sumenep Tembus Pasar Nasional, Cita Rasanya Diminati di Indonesia Timur

No comments
Gambar : Para Pekerja Linting Rokok Di Kawasan APHT Kabupaten Sumenep Saat monitoring Oleh Dinas Terkait

SUMENEP – Produk rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang diproduksi tenant atau perusahaan rokok di kawasan Aglomerasi Pabrik Hasil Tembakau (APHT) Kabupaten Sumenep mulai menunjukkan daya saing di pasar nasional. Dalam beberapa bulan terakhir, produk kretek asal kawasan industri tersebut berhasil menembus pasar Indonesia Timur, terutama di wilayah Lombok, Nusa Tenggara Barat, hingga Kupang, Nusa Tenggara Timur.

Iklan

Keberhasilan tersebut menjadi sinyal positif bagi perkembangan industri hasil tembakau di Kabupaten Sumenep. Tidak hanya memperluas jaringan pemasaran, produk SKT asal APHT juga mulai mendapat tempat di hati konsumen berkat karakter rasa kretek khas Madura yang kuat serta harga yang kompetitif.

Direktur Pulau Garam Tobacco, Andi, yang merupakan salah satu tenant dari 11 tenant yang ada mengatakan permintaan dari wilayah Indonesia Timur terus mengalami peningkatan meskipun produk yang dipasarkan masih tergolong baru di daerah tersebut.

"Permintaan dari Lombok sampai Kupang cukup besar. Padahal produk kami masih tergolong baru di sana, tetapi respons pasar sangat baik," ujarnya.

Menurut Andi, salah satu faktor yang membuat produk SKT buatannya cepat diterima konsumen adalah cita rasa kretek Madura yang khas, berpadu dengan harga jual yang lebih terjangkau dibandingkan produk sejenis di pasaran.

Ia menjelaskan, tingginya harga produk sejenis saat ini disebabkan sebagian besar pabrik rokok harus mendatangkan bahan baku tembakau Madura ke Pulau Jawa untuk diproses sebelum kembali dipasarkan ke berbagai daerah.

Sementara itu, tenant yang beroperasi di APHT Sumenep memiliki keuntungan dari sisi efisiensi produksi karena bahan baku utama dan fasilitas produksi berada dalam satu kawasan.

"Mayoritas bahan bakunya berasal dari Madura, sedangkan pabrik kami juga berada di Madura. Jadi biaya distribusi bahan baku jauh lebih efisien sehingga kami bisa menekan harga pokok produksi (HPP). Efisiensi ini membuat harga jual menjadi lebih kompetitif tanpa mengurangi kualitas produk," jelasnya.

Menurutnya, strategi tersebut menjadi salah satu keunggulan yang sulit ditandingi oleh produsen lain yang harus mengeluarkan biaya logistik lebih tinggi. Dengan biaya produksi yang lebih rendah, perusahaan dapat menjaga kualitas tembakau sekaligus menawarkan harga yang terjangkau kepada konsumen.

Selain faktor harga, Andi menilai karakter rasa kretek Madura menjadi daya tarik tersendiri. Aroma tembakau yang khas dipadukan dengan racikan cengkih menghasilkan sensasi merokok yang berbeda sehingga mampu menarik minat konsumen baru di wilayah Indonesia Timur.

Melihat tren permintaan yang terus meningkat, pihaknya optimistis distribusi produk akan semakin luas ke berbagai provinsi lainnya. Perusahaan juga mulai menyiapkan peningkatan kapasitas produksi agar mampu memenuhi kebutuhan pasar yang terus bertambah.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian dan Perdagangan (DKUPP) Kabupaten Sumenep, Moh. Ramli, S.Sos., M.Si mengatakan keberhasilan tenant APHT menembus pasar nasional merupakan bukti bahwa industri hasil tembakau di Kabupaten Sumenep memiliki daya saing yang kuat.

Menurutnya, tembakau Madura selama ini dikenal memiliki karakter aroma dan cita rasa yang khas sehingga menjadi salah satu bahan baku terbaik bagi industri rokok kretek di Indonesia."Tembakau Madura memang memiliki cita rasa dan aroma yang khas. Oleh karena itu, produk-produk rokok yang diproduksi tenant APHT Sumenep patut menjadi salah satu pilihan bagi para penikmat kretek di Indonesia," kata Ramli.

Ia menambahkan, keberadaan APHT tidak hanya bertujuan menyediakan kawasan produksi yang lebih tertata, tetapi juga menjadi instrumen untuk meningkatkan nilai tambah komoditas tembakau lokal melalui proses hilirisasi di daerah asal.

Dengan semakin berkembangnya pasar, menurut Ramli, dampak ekonomi yang dihasilkan juga akan semakin besar bagi masyarakat Kabupaten Sumenep. Peningkatan permintaan produk secara otomatis akan mendorong perusahaan melakukan ekspansi kapasitas produksi yang berimplikasi pada kebutuhan tenaga kerja baru.

"Kalau permintaan terus meningkat, otomatis perusahaan membutuhkan tambahan sumber daya manusia untuk mendukung proses produksi. Artinya, kesempatan kerja bagi masyarakat juga akan semakin terbuka sehingga manfaat ekonomi dari keberadaan APHT dapat dirasakan lebih luas," ujarnya.

Ia berharap keberhasilan sejumlah tenant APHT menembus pasar nasional menjadi motivasi bagi perusahaan rokok lainnya di Kabupaten Sumenep untuk terus meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta memperkuat identitas rokok kretek khas Madura sebagai produk unggulan daerah.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sumenep juga berkomitmen mendorong penguatan industri hasil tembakau melalui pengembangan APHT sebagai pusat produksi yang efisien, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kesejahteraan petani tembakau, pelaku usaha, hingga tenaga kerja lokal.

Dengan perpaduan kualitas tembakau Madura, efisiensi biaya produksi, dan cita rasa kretek yang autentik, produk SKT buatan tenant APHT Kabupaten Sumenep kini mulai membuktikan kemampuannya bersaing di pasar nasional. Jika tren pertumbuhan ini terus berlanjut, bukan hanya pangsa pasar yang akan semakin luas, tetapi juga kontribusi industri hasil tembakau terhadap perekonomian daerah dan penyerapan tenaga kerja diyakini akan terus meningkat.

Berita lainnya !

Bagikan:

Tinggalkan komentar